Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Di mata seorang anak, seorang ibu akan senantiasa terlihat segar dan kuat seperti semasa muda dulu ketika aku masih kecil. Walau rambut sudah memutih dan usia sudah senja, aku berpikir bahwa Ibuku masih sehat dan kuat seperti dulu ketika saat membesarkan ku. Termasuk saat ketika anak pertamaku lahir dan sering kutitipkan kepadanya ketika aku bekerja. Kupikir ibuku masih kuat, sekuat saat membesarkanku dulu.
Namun seiring berjalannya waktu, kini kusadari bahwa tangan kuat dan wajah cantiknya kian memudar. Tak segesit dulu lagi ketika berjalan. Capek sedikit mudah sakit. Mendengar teriakan dan tangisan anak-anakku pun sudah membuatnya pusing.
Salah satu keputusanku untuk meninggalkan karir kantoranku adalah tak kuasa melihat ibuku ketika walau hanya turut mengawasi anakku ketika di rumah, ternyata perilaku anakku benar-benat manja sekali. Semuanya maunya di"ladeni" sama eyangnya walau ada mba atau babysitternya. Belum kalau lagi tantrum, apalagi kalau aku tinggal dinas berhari-hari plus bapaknya yang bekerja di kota lain. Sering kali sepulang aku dinas, ibuku pun sakit, kecapean sepertinya. Memang sudah bukan masanya lagi untuk turut mengawasi anak-anakku. Masanya adalah bermain secukupnya waktu dengan cucu-cucunya dengan riang gembira. Bukan sepanjang hari mengawasi dan turut momong walau ada mba atau babysitternya.
Kini aku pun merasakan ternyata begini rasanya 24 jam bersama kedua buah hatiku. Awal-awal merasa terpenjara. Sama seperti ibuku dulu, terpenjara ketika membantu momong anak-anakku, tak punya waktu untuk diri sendiri ketika ingin pergi bersama teman-temannya ke luar kota atau mengunjungi kakak-kakaknya di kota kelahiran eyangku. Bahkan pernah ketika berkumpul acara reuni bersama teman-temannya sesama pensiunan, anakku turut diajak serta, karena anakku benar-benar tidak mau lepas dari ibuku. Dan hanya ibuku saja yang bawa cucu, teman-temannya mana ada.
Tekadku semakin bulat ketika melihat ibuku semakin lelah dan terlihat semakin terpenjara kehidupannya karena keharusan turut mengawasi anakku. Tidak boleh seperti ini terus. Tanggung jawabku untuk mendidik anakku dan membersamainya. Sudah tidak bisa lagi seperti ini. Sudah saatnya aku lepas dan melepaskan diri dari bayang-bayang sosok ibuku yang selalu turut membantuku. Sudah saatnya aku mendidik anakku dengan caraku dan cara suamiku supaya tidak manja seperti ini.
Biarkan Ibuku dapat dengan tenang di usia senjanya, bercocok tanam di halaman rumah, berkumpul bersama teman-temannya, ikut pengajian di masjid samping rumah, sambil sesekali bermain bersama cucu-cucunya (bukan sepanjang hari). Maafkan aku ibu, yang sudah banyak mengambil waktumu untuk mengurusi anakku.
#ODOP #onedayonepost #55thpost
#happyinternasionalwomanday
Smeoga bakti mb ke ibu diganjar pahala melimpah oleh Nya. Btw boleh kaish masukan ya mb, pengasuh bayi bhs inggrisnya baby sitter. baby sitting = mengasuh bayi. kalo baby's sister kakak cewenya si bayi hehehe.
BalasHapusSalam kenal dari saya xoxo :)