Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
"Tidak ada kekuatan yang dapat menghancurkan persatuan, selama kita berdiri bersama." - Bhinneka Tunggal Ika "Dalam catatan sejarah, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari masa-masa kelam pemerintahan kolonial Belanda. Sering kali dikatakan bahwa Belanda menggunakan strategi 'divide et impera,' atau 'membagi dan menaklukkan.' Taktik ini melibatkan pemecahan kesatuan yang ada secara sengaja, sebuah taktik yang terbukti sangat efektif dalam menaklukkan kerajaan, baik yang kecil maupun besar, di bawah kekuasaan Belanda. Belanda akhirnya berhasil mempertahankan kendali atas Indonesia selama 350 tahun, sejak kedatangan pertama mereka di Batavia pada abad ke-17. Strategi memecah belah ini, meskipun diterapkan secara perlahan, kini sekali lagi mengintai di tengah-tengah bangsa kita. Perbedaan politik, dan bahkan perbedaan apapun, dipersempit hingga menyebabkan perpecahan menjadi faksi-faksi yang berbeda, masing-masing merasa benci satu sama lain. Lebih lag...