Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Ketika Waktu Berjalan Begitu Cepat, Penjual Keliling Depan Rumah

Ketika pulang ke rumah mama. Banyak yang masih nampak sama. Namun ada beberapa yang kulihat menua. Tukang sate yang sering kubeli saat kukecil dulu yang masih setia berjualan berkeliling sesaat menjelang magrib. Masih kuingat dengan jelas bapak itu berbadan tegap dengan rambut hitamnya yang lebat memdorong gerobak satenya sambil membunyikan tek..tek..tek... Namun kini rambutnya sudah berubah menjadi abu-abu dan raut wajah lelah nampak jelas. Begitu pula dengan tukang bubur langgananku yang setiap pagi dengan sahutannya...buuur....buuur...buuur... Yang dulu ketika kukecil menggunakan sepeda sekarang sudah berubah menggunakan motor. Bapak ini juga rambutnya hitam lebat namun kini dipotong cepak dengan warnanya yang sudah banyak putihnya. Sangat kontras wajahnya dibandingkan dulu. Ada juga tukang susu n***onal yang dulu berjualan menggunakan sepeda yang dikayuh namun ada penutup kain diatasnya yang menutupi dirinya maupun kotak-kotak yang didalamnya berisi susu. Kini terlihat semakin tu...

Ketika Wanitamu, Tak Berdaya Melawan Depresi

Jika pada posting sebelumnya sudah diulas hasil ngobrol ringan dengan Mba Ika yang pernah mengalami depresi karena ditinggal suaminya. Dan juga curahan hati Mba Indah yang mempunyai sahabat yang mengalami depresi. Kali ini saya berkesempatan mengobrol ringan dengan Mas Ale (bukan nama sebenarnya) yang istrinya pernah mengalami depresi. Berikut obrolan ringan kami: ✒Bagaimana awalnya Anda mengetahui bahwa istri Anda terkena depresi? Saya sudah mengetahuinya sebelum menikah. Saat itu dia tidak mau berangkat ke kantor selama seminggu, akhirnya diceritakan bahwa dia mengalami depresi dan dalam pengobatan. ✒Apa yang Anda lakukan ketika mengetahui dia terkena depresi? Berusaha mensupport. ✒Bagaimana perasaan Anda mengetahui calon istri terkena depresi?  Awalnya bingung karena bisa ya ada orang mengalami seperti ini, tapi kemudian berselancar di dunia maya mencari tahu apa itu depresi dan ternyata ada banyak orang di dunia ini yg mengalaminya. ✒Bagaimana pandangan Anda terha...

Berduka Dapat Berujung Depresi

Kehilangan seseorang atau sesuatu yang amat sangat berarti bagi kita dapat meninggalkan duka yang teramat mendalam. Duka tersebut dapat menetap cukup lama bahkan dapat menjadi lebih dalam seiring berjalannya waktu. Namun banyak juga yang harus cepat bangkit dari keadaan berduka guna kehidupan dapat berjalan dengan normal kembali tanpa adanya seseorang atau sesuatu yang telah hilang tersebut. Tetapi bagaimana dengan yang larut dalam kesedihan hingga mempengaruhi kehidupannya. Lalu bagaimana membedakannya, apakah berduka pasti akan berujung depresi? Menurut  Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang dikatakan menderita gangguan depresi jika terdapat l ima (atau lebih) gejala telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu. Gejala-gejala tersebut adalah...

Perbedaan Depresi dan Cemas

https://youtu.be/uynf5qtSki0 Diatas adalah salah satu channel youtube favourite saya yang pastinya saya subscribe dan saya ikuti selalu postingannya. Banyak sekali pembahasan mengenai kesehatan jiwa disini yang disampaikan dari sudut pandang seorang dokter ahli jiwa namun sangat mudah dipahami dengan bahasa yang membumi. Dokternya pun lumayan good looking ya dan masih muda, jadi menontonnya pun juga enak, tanpa merasa digurui. Episode kali ini membahas tentang perbedaan antara cemas dan depresi. Kalau yang saya pahami setelah mendengarkan penjelasan beliau diatas, kunci perbedaannya terletak pada perasaan. Jika cemas, perasaan yang dominan adalah takut hingga dapat disertai gejala fisik seperti jantung beedebar-debar, ingin muntah, keringat dingin di sekujur tubuh, pikiran tidak tenang karena selalu memikirkan yang dicemaskan atau ditakutkan. Sedangkan depresi lebih kepada sudah kehilangan semangat hidup, menyalahkan diri sendiri, menyerah, cenderung diam saja, apatis terhadap lin...