Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Ketika pulang ke rumah mama. Banyak yang masih nampak sama. Namun ada beberapa yang kulihat menua. Tukang sate yang sering kubeli saat kukecil dulu yang masih setia berjualan berkeliling sesaat menjelang magrib. Masih kuingat dengan jelas bapak itu berbadan tegap dengan rambut hitamnya yang lebat memdorong gerobak satenya sambil membunyikan tek..tek..tek... Namun kini rambutnya sudah berubah menjadi abu-abu dan raut wajah lelah nampak jelas. Begitu pula dengan tukang bubur langgananku yang setiap pagi dengan sahutannya...buuur....buuur...buuur... Yang dulu ketika kukecil menggunakan sepeda sekarang sudah berubah menggunakan motor. Bapak ini juga rambutnya hitam lebat namun kini dipotong cepak dengan warnanya yang sudah banyak putihnya. Sangat kontras wajahnya dibandingkan dulu. Ada juga tukang susu n***onal yang dulu berjualan menggunakan sepeda yang dikayuh namun ada penutup kain diatasnya yang menutupi dirinya maupun kotak-kotak yang didalamnya berisi susu. Kini terlihat semakin tu...