Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Griya Schizofren: Illuminating Paths to Mental Health and Empathy Mental health is invisible, but it's a very real issue. Coco Gauff In the bustling heart of Solo, Indonesia, the story of three sociology students from Universitas Sebelas Maret (UNS) unfolds as a testament to the transformative power of compassion and dedication. Triana Rahmawati, Febrianti Dwi Lestari, and Wulandari embarked on a remarkable journey that has changed the lives of hundreds facing mental health challenges. They are the visionary founders of Griya Schizofren, a community that stands as a beacon of hope and understanding for those touched by mental health issues. Their journey began within the confines of UNS, where they participated in the Community Service Student Creativity Program. Driven by a desire to approach mental health issues through a sociological lens, they chose to serve at Griya PMI, a local center for individuals with mental health challenges. What started with just ten students soon expa...