Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Kuteringat akan sebuah film yang direkomendasikan oleh suamiku untuk aku tonton. Suamiku bukan pecinta film romantis. Jadi ketika dia sudah merekomendasikan film ini dan dia berkata, kamu pasti suka banget. Maka sudah dapat dipastikan filmnya tidak akan mengecewakan donk. Lalu aku pun menontonnya, dimulai dengan kisah seorang lelaki muda pekerja di suatu kantor lalu datang seorang wanita muda seorang pegawai baru disana. Seperti kisah pada umumnya, akhirnya mereka berdua dekat dan menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Namun yang menjadi kekuatan dalam film ini adalah dibangun emosi penonton dari sudut pandang seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Disajikan 500 hari bersama Summer (si wanita) dari kacamata si pria dengan cukup detail. Aku sebagai wanita tak menyangka juga ternyata ketika pria jatuh cinta secara mendalam dapat seperti itu. Dunianya seperti hanya seputar Summer, mulai dari bangun tidur hingga terlelap tidur di malam hari. Sejak awal, memang tidak ada kese...