Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Demi meningkatkan dan menumbuhkan semangat serta kebiasaan baik membacaku yang sudah lama menghilang. Yang kini telah tergantikan oleh kesibukanku di ranah domestik yang seakan tidak pernah berakhir. Aku pun bergabung untuk yang kedua kalinya dengan komunitas Reading Challenge Group yang dipersembahkan oleh ODOP (One Day One Post). Awalnya aku bingung, mau membaca apa ya,saking sudah lamanya tidak membaca buku-buku tebal nan serius baik fiksi maupun non fiksi. Lalu aku tertarik pada suatu jurnal yang katanya memenangkan Nobel di bidang ekonomi tahun 2019 yang membahas tentang Indonesia (SD Inpres pada periode tahun 70an) oleh para peneliti dari luar negeri tentunya. Jurnal berbahasa inggris ini cukup tebal, 60an halaman ditambah tabel, grafik, catatan kaki dan lain-lainnya. Aku benar-benar dibuat penasaran, karya ilmiah seperti apa sih yang dapat memenangkan Nobel. Lalu aku putuskan untuk membaca selembar demi selembar, pelan-pelan, berusaha memahami dengan kemampuan otak...