Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Pagi ini aku bersama para bunda TK Kakak, berkunjung ke dua bunda yang baru melahirkan. Berhubung rumahnya agak dekat dengan sekolahan maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kesana. Nyatanya agak jauh ya, untungnya kontur jalanannya menurun. Berjalan kaki bersama-sama, berdua-dua sepanjang jalan menuju ke rumah bunda tersebut, membuatku menangkap banyak pemandangan yang jarang kutemui sebelumnya. Padahal hampir setiap hari aku melewati jalan ini ketika mengantar dan menjemput kakak sekolah dengan motor ataupun mobil. Dengan berjalan kaki, kami pun menyapa ibu-ibu atau para lansia yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Hal demikian tentunya tak bisa kami lakukan jika mengendarai motor atau pun mobil. Silahturahmi dan keramahan sangat terasa di bumi jawa ini. Tak berapa lama aku berpapasan dengan ibu berusia 40-50 tahunan yang membawa bakul berisi sayuran menawarkan sayurannya ke rumah-rumah yang dilewatinya sambil mengetuk pintunya. Kontur jalanan cukup menanjak. Da...