Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Di mata seorang anak, seorang ibu akan senantiasa terlihat segar dan kuat seperti semasa muda dulu ketika aku masih kecil. Walau rambut sudah memutih dan usia sudah senja, aku berpikir bahwa Ibuku masih sehat dan kuat seperti dulu ketika saat membesarkan ku. Termasuk saat ketika anak pertamaku lahir dan sering kutitipkan kepadanya ketika aku bekerja. Kupikir ibuku masih kuat, sekuat saat membesarkanku dulu.
Namun seiring berjalannya waktu, kini kusadari bahwa tangan kuat dan wajah cantiknya kian memudar. Tak segesit dulu lagi ketika berjalan. Capek sedikit mudah sakit. Mendengar teriakan dan tangisan anak-anakku pun sudah membuatnya pusing.
Salah satu keputusanku untuk meninggalkan karir kantoranku adalah tak kuasa melihat ibuku ketika walau hanya turut mengawasi anakku ketika di rumah, ternyata perilaku anakku benar-benat manja sekali. Semuanya maunya di"ladeni" sama eyangnya walau ada mba atau babysitternya. Belum kalau lagi tantrum, apalagi kalau aku tinggal dinas berhari-hari plus bapaknya yang bekerja di kota lain. Sering kali sepulang aku dinas, ibuku pun sakit, kecapean sepertinya. Memang sudah bukan masanya lagi untuk turut mengawasi anak-anakku. Masanya adalah bermain secukupnya waktu dengan cucu-cucunya dengan riang gembira. Bukan sepanjang hari mengawasi dan turut momong walau ada mba atau babysitternya.
Kini aku pun merasakan ternyata begini rasanya 24 jam bersama kedua buah hatiku. Awal-awal merasa terpenjara. Sama seperti ibuku dulu, terpenjara ketika membantu momong anak-anakku, tak punya waktu untuk diri sendiri ketika ingin pergi bersama teman-temannya ke luar kota atau mengunjungi kakak-kakaknya di kota kelahiran eyangku. Bahkan pernah ketika berkumpul acara reuni bersama teman-temannya sesama pensiunan, anakku turut diajak serta, karena anakku benar-benar tidak mau lepas dari ibuku. Dan hanya ibuku saja yang bawa cucu, teman-temannya mana ada.
Tekadku semakin bulat ketika melihat ibuku semakin lelah dan terlihat semakin terpenjara kehidupannya karena keharusan turut mengawasi anakku. Tidak boleh seperti ini terus. Tanggung jawabku untuk mendidik anakku dan membersamainya. Sudah tidak bisa lagi seperti ini. Sudah saatnya aku lepas dan melepaskan diri dari bayang-bayang sosok ibuku yang selalu turut membantuku. Sudah saatnya aku mendidik anakku dengan caraku dan cara suamiku supaya tidak manja seperti ini.
Biarkan Ibuku dapat dengan tenang di usia senjanya, bercocok tanam di halaman rumah, berkumpul bersama teman-temannya, ikut pengajian di masjid samping rumah, sambil sesekali bermain bersama cucu-cucunya (bukan sepanjang hari). Maafkan aku ibu, yang sudah banyak mengambil waktumu untuk mengurusi anakku.
#ODOP #onedayonepost #55thpost
#happyinternasionalwomanday
Smeoga bakti mb ke ibu diganjar pahala melimpah oleh Nya. Btw boleh kaish masukan ya mb, pengasuh bayi bhs inggrisnya baby sitter. baby sitting = mengasuh bayi. kalo baby's sister kakak cewenya si bayi hehehe.
BalasHapusSalam kenal dari saya xoxo :)