Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Waktu 24 jam sehari, kuantitas boleh sama kualitas tunggu dulu...

Keseharian kami sejak merantau di kota Semarang ini, salah satunya hampir setiap weekend kami mengunjungi tempat wisata alam di semarang dan sekitarnya.

Bahkan ketika 3 bulan pertama kami pindah, kami agak merasa bahwa banyak sekali ya waktu 24 jam sehari di kota ini yang dapat dimanfaatkan.

Jika aku bandingkan dengan dahulu ketika tinggal di Jakarta dan sekitarnya, waktu 3-4 jam sehari sudah habis hanya untuk perjalanan rumah kantor. Lalu 9 jam di kantor termasuk 1 jam istirahat siang. Itu kalau tidak ada lembur atau rapat di luar jam kantor. Belum lagi kalau rangkaian dinas luar kota sudah tersusun rapi, mengejar flight pertama sebelum subuh pun sudah berangkat menuju bandara, begitu pula sepulang dinas yang waktu tempuh bandara-rumah dapat berjam-jam lamanya.

Keseharian kami berubah total, pagi hari jam 5-6 bangun pagi lalu dilanjutkan menyiapkan sekolah anak-anak (beberes, masak, makan, mandi). Jam 8 kurang papa meluncur mengantar kakak sekolah lalu ke kantor. Lalu aku jam 9 aku bersama adik meluncur ke PAUD. Siang aku dan anak-anak sudah di rumah kembali. Bapaknya pun sebelum magrib sudah sampai di rumah juga.

Awal-awal pindah, hampir setiap hari sepulang kantor, malamnya berjalan-jalan berkeliling kota, mencoba kuliner kota ini. Jarak 20-30km dapat ditempuh hanya 15-30 menit saja disini. jadi kemana-mana terasa dekat. Lama kelamaan capek juga. Yang biasanya setiap hari menjadi 2-3 hari sekali. Akhirnya kuliner pun sudah hampir semua dicoba. Sedangkan yang dekat-dekat tinggal pakai go**od saja.

Weekend, karena mall terbatas dan beda yah kalau dibandingkan dengan banyaknya pilihan Mall di Ibukota, kami pun travelling wisata alam. Buanyaaaak sekali di sekitar semarang ini. Jika kami memilih menginap malam minggu, kami akan mencoba yang agak jauh sedikit di sekitar solo, jepara, yogya, pacitan dan kota sekitar jawa tengah atau perbatasan jawa timur. Yang memerlukan waktu tempuh 2-4 jam sekali jalan.

Walau sama-sama mempunyai 24 jam sehari namun kualitas hidup yang dirasakan sangat berbeda. Banyak waktu yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang disukai. Namun begitu, efek setiap minggu jalan-jalan ternyata memberikan dampak lain. Jadi kurang istirahat juga, badan capek jadi sakit juga walau hati riang.

Hari ini gantian aku yang badan mulai greges, pusing, anak-anak udah minggu lalu pilek dan batuk. Jalan-jalan boleh tapi mesti inget faktor umur, baik umur anak-anak yang masih kecil dan umur bapak ibunya yang sudah tidak muda dan segesit dulu ketika berusia 20an.

Just enjoy your life in every stages in it.

Ketika aku muda, aku punya banyak waktu namun tidak uang.
Ketika aku dewasa, aku punya banyak uang namun tidak waktu.
Ketika aku tua, aku punya banyak waktu mungkin juga uang namun kesehatan sudah jauh berkurang sehingga banyaknya waktu dan uang terasa sia-sia.

#ODOP #onedayonepost #35post #health

Komentar

  1. Kadang suka nyesel kalo 24 jam ga dimanfaatin dg baik, blm bisa membagi waktu dengan baik :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba masih belajar juga, bisa karena biasa.

      Hapus
  2. Senagai perempuan saya juga harus mikir kalau mau kerja dijakarta.. hidup belasan tahun tanpa kebisingan, tiba” harus merasakan kebisingan rasanya gimana ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, kalau takdir membawa kesana ya dinikmati saja mba

      Hapus
    2. Hihihi, kalau takdir membawa kesana ya dinikmati saja mba

      Hapus
  3. belajar memanfaatkan waktu luang kayaknya mulai sekarang, nice mba tulisannya

    BalasHapus

Posting Komentar