Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Ketika Kebohongan Kecil demi Anak, Menggelinding bagai Bola Salju Memporak-porandakan Negeri

Alkisah, hiduplah seorang nenek berusia 70 tahun yang sedang menjalani operasi plastik sedot lemak di bagian wajahnya. Beliau mempunyai beberapa anak yang cantik dan rupawan. Salah seorang anaknya adalah artis papan atas begitu pula menantunya. Beliau sendiri pun awalnya juga terjun dan dikenal masyarakat dari dunia teater.

Namun usia tidak dapat berbohong, menginjak usia renta kecantikan pun serta merta pudar dengan cepatnya. Ketika sempat kutilik fotonya di kala muda, walau tidak secantik anaknya yang berdarah indo karena bersuamikan berdarah eropa. Memang cukup jauh berkurang sekali.

Mungkin itu salah satu alasan nenek ini memutuskan untuk operasi plastik. Karena banyak sekali di jagad artis Indonesia masih terlihat cantik di usianya yang sudah senja. Sebut saja Ibunda kita Titiek Puspa, Widyawati dan lainnya.

Pada awalnya, sepertinya nenek ini tidak ingin mengakui di depan anaknya bahwa dia operasi plastik guna dapat terlihat cantik seperti arits-artis lainnya seusianya. Bisa saja anaknya yang sedari awal tidak setuju akan rencana ibundanya ini, membuat si nenek ini tak berpikir panjang menyebut dirinya dipukuli saja, berbohong ke anaknya. Demi tidak ketahuan bahwa dirinya melakukan operasi plastik.

Namun tunggu dulu...kita semua disini saat ini hanya dapat berandai-andai apa yang sebenarnya terjadi di pikiran nenek ini perihal alasan sebenarnya mengapa dia berbohong. Tidak akan ada yang tahu alasan sebenarnya kecuali dirinya sendiri. Apakah alasan demi anak sekarang juga bohong, entahlah. Hanya dia dan Tuhan yang tau.

Anggap saja alasan demi anak yang dilontarkannya adalah suatu kebenaran.

Hal ini merupakan salah contoh nyata bahwa berbohong itu, dalam skala apa pun. Dalam kasus ini si nenek berbohong "hanya" kepada anaknya untuk menutupi kenyataan dirinya melakukan operasi plastik yang jika dilakukan oleh seorang nenek "biasa" yang bukan merupakan public figure atau politisi mungkin efeknya tidak akan sebesar bola salju yang dapat meluluh lantakkan seluruh penjuru negeri ini untuk dapat bersimpati, bahkan untuk level seorang calon presiden, terlebih si nenek tersebut adalah salah satu tim juru kampanyenya.

Ya iyalah nenek-nenek dipukuli, terlepas yang dipukuli orang baik/bukan, perbuatan pemukulan ini akan menuai simpati orang yang masih mempunya rasa kemanusiaan. Sebenarnya mau nenek "biasa" pun jika diviralkan fotonya lebam-lebam pasti akan menuai simpati netizen. Karena kita sekarang hidup di era digital, semua informasi menyebar cepat dalam hitungan detik.

Yah, itulah salah satu tantangan kita yang hidup di era digital ini. Yang terpapar badai tsunami informasi, semua lalu berlagak menjadi pakar padahal bukan keahliannya. Semua dengan mudahnya beropini lalu viral. Padahal yang diviralkan belum jelas kebenaranya, apalagi jika hanya opini berlandaskan data yang diyakini kebenarannya merupakan fakta. Kita lupa bahwa data yang terucap dari sumber utama ternyata juga bisa hanya bualan belaka.

Bualan yang awalnya hanya untuk konsumsi anaknya, namun sialnya menyebar ke seluruh negeri. Mau menarik kebohongan kecil itu yangsudah terlanjur kemana-kemana, yang ada hanyalah harapan bahwa semuanya percaya termasuk anaknya dan berharap tidak terbongkar dan akan lewat seperti angin lalu. Note:ini pun jika memang benar ya alasan demi anak bukan merupakan kebohongan yang lain.

Melihat kasus ini... Masihkah Anda berpikir bahwa berbohong itu oke-oke saja dalam skala apa pun? Bahkan juga suatu kebohongayang termasuk white lie?

Kebohongan tetaplah kebohongan, Anda tidak akan pernah tau seberapa besar efek magnitude yang dihasilkan oleh suatu kebohongan, walau itu hanya setitik. Karena begitu kita memulai untuk berbohong, maka akan terlanjutkan oleh kebohongan -kebohongan lain guna mendukung kebohongan yang pertama. Kebohongan yaMg pertama akan menjadi suatu fakta yang diyakini oleh orang yang mendengarnya ketika melakukan crosscheck kepada ybs dan diiyakan.

Jadi mana kebenaran mana yang hanya kebohongan... menjadi sangat susah dinyatakan.

Data berlandaskan kebohongan pun menjadi dengan mudahnya dipercaya sebagai fakta. Dan untuk menarik kembali ucapan kebohongan yang telah diyakini publik sebagai fakta harus berhadapan dengan hancurnya nama baik/kepercayaan yang telah diterima oleh orang-orang yang memilih percaya kepada pembohong ini.

Bijaklah untuk menyatakan pendapat atas suatu informasi yang diterima, karena salah-salah informasi tersebut hanya kebohongan belaka walau sudah terkonfirmasi oleh ybs.

*Say no to LIE, say no to HOAX*

#ODOP #onedayonepost #31post #nonfiksi #TantanganODOP4

Komentar

  1. Setuju mba, say no to hoax 😊

    BalasHapus
  2. kebohongan sekali akan merembet kepada kebohongan-kebohongan selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagai bola salju lalu akan makin urung untuk mengakuinya

      Hapus
  3. Jadi ingat hadist yang melarang berbohong. Berbohong adalah awal dari kejahatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, saya juga tidak setuju dengan white lie.

      Hapus
  4. Sekecil apapun, bohong ya bohong... 😢 setuju banget... selain itu kita mesti waspada sama hoax... ini kisahnya menarik,, tidak menyangka ternyata sedang membahas berita terhangat masa kini 🤭

    BalasHapus
  5. Jiah...setidaknya si nenek telah menginspirasi kakak untuk membuat postingan sarat makna ini :D. Love this

    BalasHapus

Posting Komentar