Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Kisah pengemudi online part 4 (another activity)

Hmmm ah kelewat kemarin aku gak ngepost lanjutan kisah pengemudi mobil online... Hari ini aku langsung post 2 kali ya sekalian penutup kisahnya yang sudah cukup berseri di 3 postku sebelumnya. Silahkan disimak....

***

Masih belum lengkap tentang kisah keluarganya namun untuk kali ini, aku akan mencoba menceritakan ulang kisahnya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluar kecilnya...ups keluarga besarnya (2 istri dan 7 anak)

***

Aku pun berucap, "Sekarang kegiatannya apa saja, Pak?". Cukup dengan satu pertanyaan meluncurnya seluruh kisahnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di kota Jakarta ini.

Mba masih ingat dengan tanah 500m yang saya beli dengan uang warisan gusuran orang tua saya saat digusur menjadi Banjir Kanal Timur? Saya saat itu sekitar tahun 2007 membelinya sekitar 70 juta namun memang masih berupa empang. Saat ini nilai jualnya sudah tinggi, terlebih dibangun Kota Mandiri oleh Summarecon di dekat lokasi tanah saya tersebut. Tanah tersebut saya kavling menjadi 5 bagian dan tentunya saya uruk sehingga menjadi tanah padat dan siap untuk dibangun. Dan untuk 100m per kavlingnya dapat laku terjual 175 juta rupiah.

Bangga sekali terlihat dia menceritakannya. Dalam hati saya berkata, beruntung sekali bapak ini pada saat tahun 2007 lokasi tersebut memang belum berkembang. Jika saya coba berhitung hanya dalam waktu 10 tahun 70 juta berlipat menjadi 875 juta alias 12,5x lipat (1250 persen).

Setelah cukup 6 tahun berkecimpung dengan bebek, bapaknya bosen terutama anak-anaknya, jadinya dijuallah tanah tersebut yang tentunya sudah memberikan keuntungan 12,5 lipat.

Saat ini Bapak tersebut membeli mobil secara kredit untuk modal menjadi pengemudi online, setoran yang didapat digunakan untuk membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun tidak hanya itu Bapak juga bercerita, awalnya dia diajak oleh istri keduanya untuk mengikuti pelatihan gratis dari suku dinas pemprov Jakarta, pelatihan berbagai macam ketrampilan untuk mandiri. Akhirnya mereka bertiga (Bapak, Istri pertama,istri kedua) mendaftar.

Namun karena terkendala batas usia maksimal 40 tahun maka hanya istri keduanya yang dapat mengikuti pelatihan. Namun dalam pelatihan dan seminar tersebut sempat terdapat acara yang digabung dari beberapa kelas ketrampilan yang berbeda-beda untuk menjalin networking.

Istri keduanya yang seorang Guru di salah satu sekolah di Jakarta tentunya sangat update dengan informasi-informasi seputar hal-hal atau pelatihan yang sering diselenggarakan oleh pemprov untuk umum salah satunya pelatihan ketrampilan tersebut.

Pelatihan apa yang ditekuni oleh mereka? Dan bagaimana pendampingan yang dilakukan oleh Pemprov Jakarta? Bagaimana hasil dari pelatihan tersebut?

Simak kisahnya di next post ya...

Mau mudik dulu sayaaaa... See you...

#ODOP #OneDayOnePost #4rdpost

Komentar