Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Menikmati Indahnya Jalan-jalan ke Mall Saat Hari Kerja

Seminggu terakhir ini, sepulang sekolah, anakku selalu mengajak pergi. Tidak mau pulang ke rumah. Alhasil, ya aku turuti saja. Sepertinya si kakak ini mewarisi sifat ibunya yang tidak bisa diam di rumah. Inginnya pergi berkeliling-keliling. Termasuk pergi ke mall.

Sehingga makan siang pun di luar rumah. Hihihi pas sekali dengan aku yang malas memasak. Jadwal memasakku pun menjadi hanya memasak sarapan. Siang di luar (kadang makan siang bareng dengan bapaknya jika tidak ada rapat). Malam lanjut delivery order online memanfaatkan diskon (lagi). Mumpung lagi dapat diskon pesan Rp. 25.000 diskon Rp. 12.000.

Dan anak-anak pun sampai rumah langsung tidur cepat biasanya karena beraktivitas seharian di luar rumah (mengaji sore kadang masih pakai seragam, hihihi). Namun sepertinya tidak baik jika setiap hari.

Mulai minggu depan akan diatur supaya hanya di tengah minggu saja yang seperti ini. Lanjut main ke mall sepulang sekolah hingga lanjut mengaji di sore harinya. Karena anak kecil masih tetap butuh istirahat tidur siang.

Mengapa aku membolehkan untuk lanjut ke mall bermain ke arena bermain disana sepulang sekolah? Karena yang pertama, makannya relatif mudah jika makanan mall (iyalah dibanding masakan ibunya, doyan banget makanan fast food apalagi ada playgroud, setelah makan bisa langsung main), yang kedua bapaknya itu anti Mall jadi meringankan tugas bapaknya saat weekend/sepulang kerja jika direngekin untuk pergi ke mall dan yang terakhir memanfaatkan promo senin-jumat di restaurant fast food tersebut.

Sebisa mungkin aku juga belanja tidak di weekend apalagi hari gajian, antriannya panjang mengular. Walau biasanya lebih banyak promo saat weekend dan hari gajian untuk belanja bulanan di supermarket. Ini juga salah satu anti kedua Bapaknya selain ke Mall.

So sebagai wanita yang tentunya doyan shopping atau hanya seeing around cuci mata lihat-lihat di mall, mumpung sedang bebas tugas tidak bekerja kantoran...manfaatkan waktu ya...hihihi...

Efeknya kalau seharian di luar rumah jika ketika pagi meninggalkan rumah dalam keadaan bersih maka pulang akan tetap bersih...

Senengnyaaa... Karena seharian siang gak ada anak-anak yang berantakin... Memindahkan berantakan ceceran makanan ke luar jika kita makan di luar. Namun jika berangkat dalam kondisi berantakan karena pagi-pagi belum selesai atau tidak sempat berbenah karena sibuk masak sarapan berat dan menyiapkan duo krucils sekolah, siap-siap sampai rumah semut sudah dimana-mana trus Bapaknya manyun.

Jadi teringat kata-kata salah satu bos SDM kantorku saat aku exit interview dulu, kamu yakin nanti senang hanya di rumah, hanya "ikut" suami, jadi ibu rumah tangga yang kerjanya cuma jalan-jalan di mall anter jemput anak. Eh ada mall gak disana? Ya kalau kamu pikir dapat menikmati itu semua ya silahkan keluar, karena kami juga tidak ada gak untuk memaksamu lebih lama disini. Long Distance kan? Kami mengerti kalau keluarga adalah yang utama.

Jujur saat itu aku masih ada kegalauan,benarkah aku bisa menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga yang jalan-jalan di mall saat weekdays (karena penghasilan kan jadi tinggal setengah karena yang bekerja tinggal satu). Trus mall disini kan beda sama disana. Trus mendengarnya kok harga diri ini serasa tercabik-cabik gitu sebagai wanita working mom. Kesannya IRT hanya bisa ngabisin uang suami aja...hahaha..

Tapi dengan muka mantap aku menjawab, "Saya sudah yakin Pak, cepat atau lambat saya pasti akan meninggalkan pekerjaan ini karena pekerjaan suami yang berpindah-pindah. Walau saya sangat senang dapat bergabung disini sebagai abdi negara namun sekarang keluarga lebih membutuhkan saya. Saya tipikal yang harus 1 atap dengan keluarga saya, khususnya ketika anak-anak saya masih balita.

Terima kasih Pak Bos SDM yang sudah mengawal dan membantu saya dalam proses pengunduran diri saya sebagai PNS (yang tidak mudah). Tag gak ya Bapaknya? Hehehe.

#ODOP #26post #PNS #LDR #resign

Komentar

  1. Maaf bunda saya ketawa pas bagian " Hihihi pas sekali dengan aku yang malas memasak."
    Tulisan bunda selalu menghibur ni sambil mencuri-curi nilai moral yang tersembunyi.

    Ga apa dong ya bunda sekali-kali malas masak, asal ga malas nulis kan bunda :D

    Saya kagum sama keberanian bunda yang rela melepaskan pekerjaan demi keluarga. Itu hal yang luar biasa sekali. Salut (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba. Iya mba demi nggak LDR...gak sanggup hehehe...

      Males masak dan malea nulis setali tiga uang hehehe.... Kalau lagi niat jooosh... Kalau lagi gak niat yaaa gitu deh... Makanya ikut ODOP ini untuk memaksa konsistensi, hehehe.

      Karena nulis dan masak itu butuh fokus, sedangkan jika anak-anak sedang gak tidur atau gak ada yang bantu jagain, fokus jadi terputus

      Hapus

Posting Komentar