Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?"
Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama?
Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak.
Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah.
Capek gak sih jadi "kuat". Burnout ketika "hanya" mengurus anak dan keluarga di rumah terus itu nyata loh.
Aku pernah menjadi working mom. Yes, ketika hilang support sistem yang dapat diandalkan, pilihan untuk tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga menjadi kenyataan yang tidak bisa dielakkan.
Aku pun akhirnya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebuah privillage bagi para working mom dengan segala support sistem yang dapat membantunya. Kupikir lelah dan rasa burnout itu akan hilang ketika lepas salah satu tekanan hidup, ketika melepaskan tanggung jawab bekerja.
Nyatanya, rasa itu berubah bentuk menjadi rasa kehilangan diri. Hilangnya identitas jabatan mentereng yang biasa menyertai itu rasanya seperti kehilangan jati diri. Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya istri bapak A dan ibu ananda B. Bahkan lambat laun nama sendiri pun hilang, ketika memperkenalkan diri.
Perkenalkan, saya Bu (nama suami). Perkenalkan, saya Mamanya (nama anak). Memperkenalkan nama asli sendiri menjadi asing, apalagi tanpa embel-embel nama anak dan suami.
Fokus kehidupan bergeser, hanya fokus untuk orang lain yaitu anak dan suami. Diri sendiri? Terlupakan... Padahal masih banyak mimpi yang ingin diraih sebagai seorang perempuan mandiri. Bukan sebagai ibu ataupun istri. Lupa akan mimpi sendiri.
Perempuan dewasa yang memilih untuk berkeluarga dan memiliki anak memang akan dihadapkan pada banyaknya peran yang melekat pada diri dan diharapkan dapat menjalani seluruh peran tersebut dengan sempurna.
Maka pertanyaan, "Bagaimana cara bagi waktu untuk keluarga dan bekerja?" akan menjadi salah satu tekanan hidup yang dirasakan oleh para ibu bekerja. Bisa apa para perempuan ini menjalani ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi.
Kesempurnaan di segala peran yang diemban seorang perempuan dewasa seperti mempunyai karir mentereng, keluarga harmonis, anak-anak yang pintar dan sehat, selalu mendampingi suami, rumah yang senantiasa rapi dan bersih, menantu yang baik, menjaga orang tua dan mertua and the list goes on... adalah kriteria yang diharapkan oleh masyarakat kita.
Lelah, capek, stres, depresi, rasa-rasa itulah yang kerap hadir dalam hari-hari seorang perempuan. Namun, ada berita baik. Perempuan bisa memilih untuk merasa bahagia. Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Janganlah mengejar kesempurnaan standar tinggi ekspektasi masyarakat yang dibebankan kepada perempuan.
Sadari bahwa perempuan dewasa dengan segala peran yang melekat pada dirinya, adalah seorang manusia biasa.
Jangan lupakan mimpimu sendiri, kejarlah terus mimpi itu walau sudah menjadi istri dan ibu.
Dirimu tidak hilang, masih ada disana, hanya bertambah menjadi seorang ibu dan istri.
Lelah? sudah pasti, tambah peran tambah tanggung jawab tambah capek. Tapi lelah yang membahagiakan itu ada.
Jadikanlah lelahmu bahagiamu. Lelah di dunia, pahala untuk di surga, bahagia ketika di dunia. Pilihan ada di tanganmu, karena bahagia itu adalah pilihan bukan tujuan.
Love ❤ to all my beloved strong woman, let's be happy.
Kita semua sudah berusaha menjadi versi terbaik terhadap seluruh peran yang melekat pada kita, menjadi ibu yang baik, istri yang baik, anak yang baik, menantu yang baik dan individu yang baik. Rayakanlah, jalani dengan bahagia.
Peluk hangat untuk semua saudari wanitaku diluar sana. Semangat 💪.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026. https://www.ipediaberitabaik.id/
Komentar
Posting Komentar