Langsung ke konten utama

Perempuan Masa Kini, antara Harapan dan Kenyataan.

Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah.  Capek gak sih jadi "kuat". ...

Kelaparan di Tengah Malam

Alkisah setelah Isya, aku makan malam dengan nasi rawon buatan sendiri yang lumayan makyus, dan sudah berpindah tempat memenuhi segenap penjuru ruang di lambung.

Namun waktu baru bergerak menuju pukul 20.00, bunyi kriuk..kriuk..sudah nyaring meminta untuk diisi kembali.

Malas untuk memasak, karena rawon untuk makan malam sudah habis dimakan tak bersisa. Pilihan pun jatuh kepada go*ood.

Lihat history pemesanan makanan di restoran langganan eh sudah tutup. Akhirnya, pilih-pilih dari best seller dan near me, tak lupa kode voucher dimasukkan, lumayan jadi gratis ongkirnya, tuuung... handphlne berbunyi telah mendapat driver.

Driver online biasanya telpon utk konfimasi. Yang ditunggu pun datang. Eh ternyata hanya mengabarkan bahwa toko tutup. Cari lagi... Belum menyerah...

Menjelang pukul 20.30, ku telah mememesan go*ood lagi, tentunya setelah memilih dari berbagai pilihan resto yang awam dimataku. Karena resto favoritku rata-rata sudah tutup.

Namun kali ini, aku masih kurang beruntung. Tutup lagi, sodara-sodara. Sampai aku memelas bertanya, "Mas, gak ada mie ayam masih buka dekat situ?". Tentunya dijawab, "Tidak ada, Mba. Tolong dicancel ya, Mba."

Waktu bergerak menuju 21.30. Kali ini aku telah menyerah. Daripada nanti tutup lagi. Toh juga aku tidak lapar-lapar benar, karena sejatinya sudah makan malam sebenarnya tadi jam 19.00.

Tak terasa browsing, menjelajah dunia maya. Mungkin karena yang dibaca, agak berat. Membutuhkan asupan kalori yang cukup untuk dapat mencernanya. Perut pun ternyata semakin lapar hingga rasanya melilit.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Tak ada pilihan lain. Harus makan. Mana bisa tidur dengan perut melilit seperti ini.

Pilihan tersisa adalah tentunya hanya satu da tidak lain tidak bukan....adalah.... IndoM*e...

Ya, pada akhirnya aku harus memasak IndoM*e tengah malam seperti ini.

Untungnya, bukan sekedar IndoM*e biasa. Namun IndoM*e terbaru varian Salted Egg.

Yuk masak dan maem dulu yaaa. Hehehe.

Moral of the story: Kalau laper ya jangan malas masak apalagi malam-malam.

#ODOP #19thpost

Komentar

Posting Komentar