Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Review Buku 100 Cara Agar Anak Bahagia

Pada level 3 tantangan pada Reading Challenge One Day One Post Batch 6, para peserta diminta untuk membaca salah satu buku terjemahan dan memberikan review atau analisanya tentang apa yang membuatnya berbeda dari buku non terjemahan.




Banyak sekali seri buku psikologi populer yang juga telah aku baca yang bukan merupakan terjemahan. Namun aku pribadi lebih menyukai membaca terjemahan walau masing-masingnya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Khusus buku ini jika keunggulannya antara lain jika dibandingkan buku sejenia non terjemahan:

1. Alur mengalir, singkat, padat dan jelas.

Menggunakan angka istimewa 100, jadi seluruh bahasan dipecah menjadi 100 tips (5 keping besar @ 20 tips) dimana di setiap tips hanya 1-3 halaman saja. Membuat pembaca tidak bosan dan hilang konsen saat membacanya. Fokus terjaga serta yang ingin disampaikan mengena sekali tanpa ada kesan bertele/tele. Adanya kalimat yang dicetak tebal menggunakan ukuran huruf lebih besar juga sangat memudahkan pembaca mendapatkan kalimat inti atau intisari dari tips yang sedang dibahas.


(Tips 23 dari Keping 1)

Buku non terjemahan seringkali terjebak pada intro yang bertele-tele sehingga membuat pembaca bosan.

2. Menggunakan contoh nyata dan realistis di hampir setiap 100 tips yang diulas.

Contoh-contoh ini sangat mudah diaplikasikan karena memang berasal dari kisah para klien-klien/pembaca blog/websitenya. Bahkan beberapa contoh pun sepertinya diubah atau dianalogikan dengan budaya Indonesia sehingga pembaca merasa sangat dekat dan memang dapat dengan mudah diaplikasikan. Seperti contoh ketika mengisahkan pentingnya makanan sehat. Diberikan ulasan kisah saat bepergian dan hanya dapat makan di rest area tol yang isinya sebagian besar hanya restoran siap saji. Penulis memberikan contoh bahwa kisah tersebut akhirnya harus keluar dari tol untuk mencari restoran lokal (restoran padang dengan ilutrasinya pelayan yang memegang banyak piring).




Contoh pada buku non terjemahan biasanya disajikan menyatu dalam paragraf ulasan tips (tidak dipisahkan), hal ini kurang menarik dan eye catching. Serta jika pembaca ingin membaca kembali akan kesulitan mencari contoh tersebut karena tergabung dalam paragaraf inti ulasan tips.

3. Penggunaan ilustrasi gambar yang simple namun menarik dan tepat serta menyatu dalam paragraf.

Saya sangat menikmati dan benar-benar terekam dengan baik beberapa ilustrasi yang sederhana (gambar orang yg hanya guratan beberapa garis dan lingkaran melakukan sesuatu hal yang tips tersebut ulas). Namun akan lebih baik jika gambar tersebut tidak menyatu dalam paragraf karena saya menjadi sedikit kesulitan membaca paragraf tersebut karena gambar yang menyatu dengan tulisan.



Buku-buku non terjemahan jarang menggunakan ilustrasi gambar. Kalau pun ada hanya beberapa dan sekilas, tidak sebanyak buku  terjemahan. Bahkan terkadang menggunakan ilustrasi foto yang detail yang terkadang bagi saya tidak tepat dan tidak menarik (apalagi disajikan dalam warna hitam putih).

Secara garis besar buku terjemahan dan non terjemahan mempunyai beberapa perbedaan dan gaya penulisan/penyajian yang cukup berbeda. Namun menurut saya pribadi baik buku terjemahan dan non terjemahan seri psikologi populer khususnya mempunyai sisi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua kembali kepada para pembaca, gaya penulisan dan penyajian seperti apa yang cocok/menarik bagi masing-masing pembaca.

#RCO6 #OneDayOnePost




Komentar

  1. Untuk buku non fiksi menurutku lebih enak versi asli. Kadang waktu diterjemahkan kok jadi beda maknanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang mesti pilih-pilih ya, takut hasil terjemahannya zonk.

      Hapus
  2. Sampai sekarang, masih selalu cinta dengan novel-novelnya John Grisham.
    Baik versi asli, juga terjemahannya. Belum ada yg failed (tapi, semoga jangan sampai ada yg failed juga si ^^).

    Yang seri Harpot juga so far fine-fine selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penerjemahnya berarti bagus dan berkualitas serta penerbitnya.

      Hapus
  3. Wah kayaknya bagus ya bukunya, dipecah-pecah jadi lebih ringkas dan pembahasannya ringan..aku biasanya pilih buku terjemahan dari penerbit terpercaya biar ngga zonk dengan penerjemahannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku pun punya beberapa penerbit favorit. Aku sebelumnya membaca buku utamanya (100 cara agar bahagia) oleh pengarang dan penerbit yang sama dan bagus akhirnya beli deh yang buat anak :)

      Hapus
  4. Untuk buku terjemahan aku masih strick karena kualitas terjemahannya yang kadang bikin geleng-geleng kepala, sepertinya bukunya menarik ya....

    BalasHapus
  5. Wah buku parenting yg menarik untuk para ortu nih ya mba.. Meski judulnya 100 cara, tapi tampaknya pembahasannya ga membosankan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup pembagian dan penyajiannya sistematis.

      Hapus
  6. Diterbitkan ulang dengan gambar yang lebih banyak porsinya pasti asik ini
    aku belum pernah baca bukunya Mba, tapi butuh banget ilmu ini untu jadi seorang ibu yang baik hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalau gambar dan ilustrasinya lebih berwarna dan besar lebih oke ya

      Hapus
  7. bagus kayaknya bukunya mba.. memang sebagai ibu kita harus banyak membaca dan belajar lagi ya supaya bisa maksimalkan peran sebagai ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba happy bagi bundanya belum tentu happy bagi anandanya

      Hapus
  8. Wah masih terus ya mbak di Reading Challenge ... Mantaap..aku dong udah keok duluan.. semangat terus baca bukunya mbak. Menarik sepertinya buku yang dibaca mbak Tya.. lalu ingat di rumah masih banyak buku bersampul yang belum terjamah ... 😅😅😅

    BalasHapus
  9. Rupanya ilustrasi juga membantu pembaca untuk mempertahankan konsentrasi menyelesaikan bacaan yaa.. Bener juga sih, jadi lebih menarik gitu dengan memperhatikan ilustrasi, lalu membaca tips yang berkisar 1 hingga 3 halaman. Jadi lebih mudah dicerna.

    BalasHapus
  10. Menarik ya ada ilustrasinya jadi pembaca bisa dapet selingan tapi sekaligus tetap on track dengan bacaannya. Aku jadi penasraan pengen baca bukunya mbak

    BalasHapus
  11. Aku suka buku yg ada ilustrasinya, biar nggak kaku dan nggak bosen bacanya. Mungkin aku orangnya visual banget si

    BalasHapus
  12. isi bukunya sepertinya menarik dan ga membosankan ya mbak...jadi enak bacanya dan mudah diresapi dan dipraktekkan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba aku suka membacanya dan gak mesti urut juga kan membacanya

      Hapus
  13. Wah, bukunya rekomendid nih.. 💕

    Kalau aku dulu sukanya novel terjemahan. Tapi lihat2 juga penerbitnya. Soalnya kadang ada yang bahasanya jadi aneh gitu

    BalasHapus

Posting Komentar