Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Mempunyai anak-anak yang cerdas adalah impian semua ibu di dunia ini. Anak-anak yang cerdas, sukses, bahagia, riang gembira dan sehat, sesederhana itulah mimpi semua ibu untuk anak-anaknya. Namun untuk meraih mimpi itu apakah sulit?
sumber : www.pixabay.com
Sebelum kita memulai mimpi untuk anak kita, cobalah bertanya apakah mimpi untuk diri sendiri sudah tercapai? Apakah kita sudah menjadi ibu yang cerdas, sukses, bahagia, riang gembira dan sehat lahir batin?
Anak adalah peniru ulung. Jika melihat ibundanya bahagia maka ia pun dapat meniru dengan hebatnya menjadi anak yang bahagia. Anak mengikuti apa yang dilihat dan dicontohkan oleh ibunya dalam hidup ini. Bundanya adalah segalanya bagi ananda di usia-usia awal kehidupannya. Segala emosi ibunda akan tersalurkan dan terasa oleh si buah hati.
Seorang ibu yang bahagia akan dengan mudahnya menyebarkan emosi positif pada anak-anaknya secara otomatis. Mengharapkan anak menjadi cerdas maka jadilah ibu yang cerdas juga yang senantiasa semangat belajar dalam hal apa pun khususnya dalam hal menjadi seorang ibu yang baik dan benar untuk ananda (ilmu parenting). Senantiasa ingatlah bahwa anak sejatinya adalah seorang peniru ulung. Maka paparkanlah contoh nilai-nilai luhur kehidupan yang baik, niscaya ananda akan menirunya tanpa disadarinya.
Namun menjadi ibu yang bahagia apakah sulit? Tentu saja tidak. Semua berpulang kepada kesadaran diri untuk berbahagia. Karena bahagia itu adalah pilihan. Bahagia itu adalah pilihan reaksi atas segala kejadian yang datang pada kehidupan kita. Maka ajarilah ananda menjadi cerdas hati, jiwa dan raga dengan memberikan contoh nyata dalam berbahagia ketika memberikan reaksi atas semua kejadian yang datang pada kehidupan kita. Niscaya ananda pun akan memilih untuk bereaksi bahagia ketika berbagai macam kejadian datang pada kehidupannya.
Menurut buku yang berjudul "100 Cara gar Anak Bahagia", yang ditulis oleh Dr. Timothy. 2 bab awal membahas tentang bagaiman menjadi bahagia terlebih dahulu untuk diri sendiru baru kemudian dapat membahagiakan ananda.
So mommy, first let's be happy, then all fyour dream for your children can be fulfilled automatically.
When you are happy and smart, your children will see and learn how to be happy and smart just like you.
#perempuanmenulisbahagia
Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.
Komentar
Posting Komentar