Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Seorang perempuan lahir dari rahim seorang ibu. Seorang anak perempuan kelak akan menikah sehingga menjadi seorang istri. Lalu menjadi seorang ibu ketika mempunyai anak. Terakhir menjadi seorang mertua serta nenek. Fitrahnya adalah seperti itu.
sumber : www.pixabay.com
Seorang perempuan yang menjadi produktif dan berkarya tidak serta merta hanya dilihat dari nominal uang yang dihasilkan dari karya dan produktivitasnya. Namun karya dan produktivitas seorang perempuan, istri, ibu, mertua dan nenek itu dirasakan oleh suami, anak, menantu dan cucu-cucu mereka.
Jangan terbelenggu dengan suatu karya dan produktivitas perempuan harus menghasilkan nominal tertentu, jangan. Tapi lihatlah karya dan produktivitas perempuan saat menata rumah tangganya, mendidik anak-anaknya, menjadi sahabat suaminya, menemani cucu-cucunya bermain serta menjadi ibu bagi menantunya. Semua itu termasuk karya yang tak ternilai dalam rupiah.
Jadi janganlah berkecil hati jika karya dan produktivitas kita hanya sebatas "rumah tangga". Kelak pada saatnya tiba karya dan produktivitas perempuan di dalam rumah tangga akan memetik hasil yang manis yang jauh nilainya dari materi semata.
Namun sebagai wanita pun juga seorang manusia yang memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Yang terkadang ranah rumah tangga tidak cukup sebagai aktualisasi diri ini. Oleh karena itu wanita juga membutuhkan arena lain sebagai sarana aktualisasi diri, tanpa meninggalkan kewajiban utamanya mengurus keluarga.
Berkaryalah dan berproduktiflah sebagai sarana aktualisasi diri di berbagai arena sesuai dengan bakat dan kelebihan serta kemampuannya masing-masing. Temukan bakat anda, passion anda. Sesuatu yang senang anda lakukan walau tidak dibayar sekali pun. Sesuatu yang membuat mata ini berbinar-binar dan bersemangat saat membicarakannya dan melakukannya. Rasa lelah dan bosan tak pernah datang. Bahagia rasanya ketika melakukannya. Lupa waktu dan dunia sekitarnya jika sudah asyik melakukannya. Dan bakat itu bisa berbagai hal. Passion pun bermacam-macam.
Apakah anda sudah menemukannya?
#perempuanmenulisbahagia
Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.
Komentar
Posting Komentar