Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Bunda, taukah Anda, bahwa ibu adalah pondasi dan tiang suatu peradaban? Peradaban manusia berasal dari suatu kelompok manusia, baik itu negara, lalu lebih kecil lagi masyarakat, dimana bagian yang terkecilnya adalah keluarga.
Peran Ibu dalam suatu keluarga tidaklah main-main. Sangat penting dan merupakan jiwa dan roh dari sebuah keluarga. Seorang ibulah yang mengantarkan jiwa murni dari anak ke dunia yang kelak menjadi anggota keluarga. Seorang ibulah yang mendidik dan menyayangi serta menutrisi makanan bergizi (ASI) pertama kali kepada sang bayi, calon penerus keluarga, masyarakat, bangsa negara dan peradaban manusia selanjutnya.
Jangan biarkan anak-anak lepas dan kekurangan kasih sayang, didikan serta nutrisi dari ibundanya. Akibatnya sangat fatal untuk peradaban manusia generasi selanjutnya. Seorang ibu akan berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk anandanya dalam segala hal termasuk kasih sayang, pendidikan akhlak/budi pekerti dan pelajaran, nutrisi bergizi, materi dan lain-lain.
Oleh karena itu bunda, dirimu adalah pusat dunia anakmu saat bayi hingga balita menjelang remaja. Bersamailah mereka semampu dan sebanyak waktu yang bisa Bunda berikan. Hujanilah mereka dengan kasih sayangmu. Didiklah mereka dengan lembut namun tegas. Berilah nutrisi bergizi sepanjang masa pertumbuhannya. Manjakanlah secukupnya dengan materi duniawi. Asahlah empati dan rasa saling tolong menolong terhadap sesamanya khususnya orang yang dituakan atau pun yang kurang beruntung. Dekatkanlah dan kenalkanlah ananda kepada Tuhan pencipta alam raya ini. Kuatkanlah iman kepada Sang Pencipta Kehidupan ini.
Jika semua ibunda di seluruh dunia sadar akan perannya sebagai tiang dan pondasi sebuah peradaban, maka niscaya generasi peradaban mendatang akan lebih baik atau setidaknya minimal sama dengan generasi peradaban kita saat ini, tidak lebih buruk.
Selamat datang generasi mendatang, para ibu akan berjuang sekuat tenaga mengantarkan anak-anaknya tercinta menjadi bagian dari peradaban mendatang yang lebih baik lagi.
#perempuanmenulis bahagia
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challange Indscript
Komentar
Posting Komentar