Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Komunikasi Produktif (Kalimat Empati Vs Non Empati)

Aku tuh paling gemes sekali jika kakak sudah minta gendong, padahal adeknya saja masih kuat jalan. Atau jika membawa kereta dorong yang minta naik malah kakaknya, padahal itu buat si adek.

Kakak memang sering berucap aku ingin dimanja, aku ingin diturutin semua keinginanku. Jadi memang permintaannya digendong itu merupakan salah satu ungkapannya ingin dimanja.

Tapi kaaaan sudah besar, sudah berat badannya. Hmm... Terkadang memang keinginan untuk dimanja itu harus kita terima dan kita sambut dengan kalimat empati.

Contoh (kalimat empati): Kakak kenapa minta digendong capek ya? Hayoo tadi siapa yang minta pergi kesini? Tadi sudah janji gak gendongan loh kalau mau pergi kesini.

Biasanya (kalimat non empati):: Mama gak mau gendong, tadi yang minta kesini siapa. Janjinya apa tadi?

Komentar