Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Anakku ini paling doyan nyuruh-nyuruh. Padahal sebenarnya bisa dia lakukan sendiri, tapi sukanya menyuruh orang lain untuk melakukan yang dia inginkan.
Seperti tadi pagi, Kakak mau makan makanan ringan. Namun *tidak bisa* membuka bungkusnya (menurut dia).
Aku selalu menekankan kepada anakku itu, meminta tolong jika tidak dapat melakukannya sendiri. Kalau bisa mengerjakan sendiri tapi minta tolong itu namanya menyuruh, bukan minta tolong, walau dimulai dengan kata tolong di awal kalimat.
Seperti siang ini, "Mama, aku mau ini, tolong bukain.", kata kakak sambil bawa makananya disodorin ke aku. Lalu aku pun berkata, "Kakak sudah *bisa* buka sendiri kan?".
Tapi kakak berkata, "Aku tidak bisa buka bungkusnya, Mama. Minta tolong bukain ya."
Kakak pun berucap,"Oh, oke Mama." Sambil mengambil gunting. Aku pun menimpali, "Hati-hati ya mengguntingnya."
"Nih, aku udah bisa buka, Mama!", soraknya girang. Aku pun senang, kakak sudah percaya diri untuk bisa membuka makanan kecilnya sendiri memakai gunting.
The Power of "Ganti kata *tidak bisa* menjadi *bisa*" really powerfull yaa.
#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Seperti tadi pagi, Kakak mau makan makanan ringan. Namun *tidak bisa* membuka bungkusnya (menurut dia).
Aku selalu menekankan kepada anakku itu, meminta tolong jika tidak dapat melakukannya sendiri. Kalau bisa mengerjakan sendiri tapi minta tolong itu namanya menyuruh, bukan minta tolong, walau dimulai dengan kata tolong di awal kalimat.
Seperti siang ini, "Mama, aku mau ini, tolong bukain.", kata kakak sambil bawa makananya disodorin ke aku. Lalu aku pun berkata, "Kakak sudah *bisa* buka sendiri kan?".
Tapi kakak berkata, "Aku tidak bisa buka bungkusnya, Mama. Minta tolong bukain ya."
Aku pun menanggapi, "Kakak kemarin sudah *bisa/ buka sendiri loh. Tuh ambil guntingnya disana. Buka sendiri ya, pakai gunting. Kakak sudah *bisa* pakai gunting, sudah diajari di sekolah juga."
Kakak pun berucap,"Oh, oke Mama." Sambil mengambil gunting. Aku pun menimpali, "Hati-hati ya mengguntingnya."
"Nih, aku udah bisa buka, Mama!", soraknya girang. Aku pun senang, kakak sudah percaya diri untuk bisa membuka makanan kecilnya sendiri memakai gunting.
The Power of "Ganti kata *tidak bisa* menjadi *bisa*" really powerfull yaa.
#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Komentar
Posting Komentar