Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Demi meningkatkan dan menumbuhkan semangat serta kebiasaan baik membacaku yang sudah lama menghilang. Yang kini telah tergantikan oleh kesibukanku di ranah domestik yang seakan tidak pernah berakhir. Aku pun bergabung untuk yang kedua kalinya dengan komunitas Reading Challenge Group yang dipersembahkan oleh ODOP (One Day One Post).
Awalnya aku bingung, mau membaca apa ya,saking sudah lamanya tidak membaca buku-buku tebal nan serius baik fiksi maupun non fiksi. Lalu aku tertarik pada suatu jurnal yang katanya memenangkan Nobel di bidang ekonomi tahun 2019 yang membahas tentang Indonesia (SD Inpres pada periode tahun 70an) oleh para peneliti dari luar negeri tentunya.
Jurnal berbahasa inggris ini cukup tebal, 60an halaman ditambah tabel, grafik, catatan kaki dan lain-lainnya. Aku benar-benar dibuat penasaran, karya ilmiah seperti apa sih yang dapat memenangkan Nobel. Lalu aku putuskan untuk membaca selembar demi selembar, pelan-pelan, berusaha memahami dengan kemampuan otak yang awam tentang penelitian.
Jurnal ini berjudul "Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment" yang ditulis oleh Esther Duflo. Ada pun abstraksi jurnal ini adalah sebagai berikut:
"Diantara tahun 1973 dan 1976, Pemerintah Indonesia membangunlebih dari 61.000 sekolah dasar di seluruh penjuru negeri. Program ini merupakan salah satu program pembangunan sekolah terbesar yang pernah tercatat. Penulis mengevaluasi dampak dari program ini terhadap tingkat pendidikan dan tingkat gaji/upah dengan mengkombinasikan perbedaan jumlah sekolah yang dibangun di tiap-tiap wilayah dengan perbedaan dalam kelompok-kelompok yang disebabkan oleh perbedaan waktu dari penyelenggaraan program ini. Anak-anak usia 2-6 tahun pada tahun 1974 menerima 0,12 - 0,19 tahun lebih lama dalam mendapatkan pendidikan pada setiap sekolah yang didirikan per 1000 anak di wilayah tempat anak tersebut dilahirkan. Dengan menggunakan berbagai instrumen variasi dari kebijakan pembangunan sekolah (SD Inpres) ini terhadap dampaknya kepada tingkat pendidikan yang menghasilkan gaji/upah maka diestimasi bahwa tingkat pengembalian ekonomis (economic returns of education) terhadap pendidikan berda pada kisaran 6,8-10,6%.
Setelah membaca dan berusaha memahami jurnal ini, memang jurnal ini memperhitungkan banyak variabel di dalamnya. Yang dituangkan dalam 20 hipotesa (rumus persaman) yang masing-masingnya diuji dengan sejumlah sample yang cukup sesuai dengan kaidah-kaidah statistika. Penulis pun menggunakan dan melanjutkan serta menyempurnakan beberapa metode yang digunakan pada penelitian sebelumnya oleh peneliti lain dalam membentuk 20 hipotesa (rumus persamaan) diatas mengambil kesimpulan dari penelitian ini.
Masih sangat kurang sekali ilmu saya untuk dapat memahami dengan mendalam dari 20 hipotesa (rumus persamaan) di atas sehingga dapat ditarik kesimpulan seperti pada abstraksi diatas. Namun membaca jurnal ini secara garis besar saya dapat mengerti mengapa Esther Duflo melalui metode yang digunakan pada jurnal ini dapat memenangkan Nobel Ekonomi 2019. Metode serta 20 hipotesa (rumus persamaan) yang digunakan memang benar-benar detail dan diuji korelasinya serta konektivitasnya walau masih banyak menyertakan asumsi.
Jurnal ini sangat layak dibaca, khususnya bagi calon-calon peneliti atau pun mahasiswa magister/doktoral yang akan membuat thesis/disertasi di bidang ekonomi. Siapa tahu penerima Nobel Ekonomi di tahun-tahun berikutnya adalah peneliti dari Indonesia yang juga meneliti Indonesia. Tidak hanya seperti yang tahun 2019 ini, Indonesia hanya kebagian sebagai data sampelnya saja.
Bagus sekali kakakku, senang membacanya
BalasHapus#semangat
bagus sekali tulisannya, terima kasih sharingnya kak :)
BalasHapusThanks for sharing kak
BalasHapusMakasih infonya...
BalasHapus