Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Kali ini aku mengikuti kelas lanjutan yang fokus belajar tentang fiksi pada One Day One Post Batch 7. Seperti pada kelas sebelumnya, kita diminta untuk melakukan tugas atau tantangan serta BlogWalking pada link yang telah ditentukan oleh Penanggung Jawab dan pemateri kelas tersebut.
Untuk tugas pertama, kami diminta untuk membaca salah satu cerpen yang ada pada wwww.ngodop.com. Pilihanku jatuh kepada salah satu cerpen dari pemateri. Cerpem tersebut dapat dibaca pada link berikut http://www.ngodop.com/art/4/Cerita-Seorang-Lelaki-yang-Sedang-Bermimpi-tentang-Dirinya-yang-Sedang-Bermimpi.
Pada cerpen ini dikisahkan tentang seorang lelaki yang sedang bermimpi tentang diriny yang sedang bermimpi mendapatkan uang banyak dan serta merta menjadi orang kaya yang kemudian dapat mewujudkan impian yang diinginkan olehnya serta impian kedua ibu bapaknya. Mudahnya, pesan yang saya tangkapa pada awal-awal membaca cerpen ini adalah uang dapat mewujudkan segala impian dan mendatangkan kebahagiaan dengan tercapainya impian tersebut.
Namun memasuki pertengahan cerpen tersebut barulah terungkap pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis. Bahwa ternyata uang tidak dapat mewujudkan mimpi yang berakhir pada kebahagiaan. Karena dengan mudahnya mimpi yang terwujud dapat tercerabut dalam hitungan hari atau bahkan detik. Kebahagiaan bukan sekedar mimpi yang terwujud. Impian yang tercapai tidak serta merta memberikan kebahagiaan yang abadi. Namun iya, impian yang tercapai memberikan rasa kebahagiaan sesaat. Tapi apakah kebahagiaan itu abadi dan absolut? Belum tentu.
Sampai pertengahan cerpen menjelang akhirnya, saya masih dengan mudah dapat membaca pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Namun memasuki ending dari cerita tersebut. Saya kebingungan. Mengapa tokoh dalam cerpen tersebut tiba-tiba menjadi bayi kembali alias terlahir kembali. Jadi saat tokoh tersebut bermimpi dalam mimpinya yang pada mimpi tersebut, tokohnya dapat mewujudkan segala impiannya itu, kapan? Berada dimana sang tokoh ketika bermimpi tersebut? Apakah di alam sebelum memasuki dunia? Atau pada kehidupan sebelumnya? Jika pada kehidupan sebelumnya berarti terlahir kembali. Namun kenapa dapat terlahir kembali pada orang tua yang sama? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepala ini ketika disajikan ending tersebut. Dan sama sekali tidak tertebak atau terpikir bahwa endingnya akan seperti itu.
Namun ending suatu cerpen merupakan hak prerogatif penulis. Apakah menjadi ending yang menggantung, atau ending yang sulit dimengerti maksud dan tujuannya seperti cerpen ini. Atau memang ternyata bisa saja hanya aku yang kesulitan untuk memaknai ending dari cerpen tersebut. Tapi cerpen ini sarat makna dan banyak pesan filosofisnya khususnya tentang manusia. Bukan tipikal cerita pendek yang akan anda temui pada majalah-majalah remaja pastinya.
Komentar
Posting Komentar