Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Kali ini aku mengikuti kelas lanjutan yang fokus belajar tentang fiksi pada One Day One Post Batch 7. Seperti pada kelas sebelumnya, kita diminta untuk melakukan tugas atau tantangan serta BlogWalking pada link yang telah ditentukan oleh Penanggung Jawab dan pemateri kelas tersebut.
Untuk tugas pertama, kami diminta untuk membaca salah satu cerpen yang ada pada wwww.ngodop.com. Pilihanku jatuh kepada salah satu cerpen dari pemateri. Cerpem tersebut dapat dibaca pada link berikut http://www.ngodop.com/art/4/Cerita-Seorang-Lelaki-yang-Sedang-Bermimpi-tentang-Dirinya-yang-Sedang-Bermimpi.
Pada cerpen ini dikisahkan tentang seorang lelaki yang sedang bermimpi tentang diriny yang sedang bermimpi mendapatkan uang banyak dan serta merta menjadi orang kaya yang kemudian dapat mewujudkan impian yang diinginkan olehnya serta impian kedua ibu bapaknya. Mudahnya, pesan yang saya tangkapa pada awal-awal membaca cerpen ini adalah uang dapat mewujudkan segala impian dan mendatangkan kebahagiaan dengan tercapainya impian tersebut.
Namun memasuki pertengahan cerpen tersebut barulah terungkap pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis. Bahwa ternyata uang tidak dapat mewujudkan mimpi yang berakhir pada kebahagiaan. Karena dengan mudahnya mimpi yang terwujud dapat tercerabut dalam hitungan hari atau bahkan detik. Kebahagiaan bukan sekedar mimpi yang terwujud. Impian yang tercapai tidak serta merta memberikan kebahagiaan yang abadi. Namun iya, impian yang tercapai memberikan rasa kebahagiaan sesaat. Tapi apakah kebahagiaan itu abadi dan absolut? Belum tentu.
Sampai pertengahan cerpen menjelang akhirnya, saya masih dengan mudah dapat membaca pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Namun memasuki ending dari cerita tersebut. Saya kebingungan. Mengapa tokoh dalam cerpen tersebut tiba-tiba menjadi bayi kembali alias terlahir kembali. Jadi saat tokoh tersebut bermimpi dalam mimpinya yang pada mimpi tersebut, tokohnya dapat mewujudkan segala impiannya itu, kapan? Berada dimana sang tokoh ketika bermimpi tersebut? Apakah di alam sebelum memasuki dunia? Atau pada kehidupan sebelumnya? Jika pada kehidupan sebelumnya berarti terlahir kembali. Namun kenapa dapat terlahir kembali pada orang tua yang sama? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepala ini ketika disajikan ending tersebut. Dan sama sekali tidak tertebak atau terpikir bahwa endingnya akan seperti itu.
Namun ending suatu cerpen merupakan hak prerogatif penulis. Apakah menjadi ending yang menggantung, atau ending yang sulit dimengerti maksud dan tujuannya seperti cerpen ini. Atau memang ternyata bisa saja hanya aku yang kesulitan untuk memaknai ending dari cerpen tersebut. Tapi cerpen ini sarat makna dan banyak pesan filosofisnya khususnya tentang manusia. Bukan tipikal cerita pendek yang akan anda temui pada majalah-majalah remaja pastinya.
Komentar
Posting Komentar