Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Hiduplah untuk hari ini, namun jangan lupa sedia payung untuk hari esok. (sumber:www.pixabay.com) Menyambung posting saya sebelumnya yaitu Sedekah Lalu Investasi/Menabung , bahwa sejatinya dalam pemasukan kita ada hak orang lain dan bagian untuk mempersiapkan masa depan kita selain tentunya untuk dinikmati saat ini. Segera setelah menerima pemasukan bulanan dan sedekah telah kita tunaikan, maka pos selanjutnya adalah investasi atau menabung. Baru sisanya kita cukupkan untuk pos pengeluaran kita sehari-hari. Lalu bagaimana dengan cicilan? Cicilan biasanya sudah dipasang autodebet pada tabungan kita untuk membayar cicilan pokok dan bunga kredit (bagi yang mempunyai kredit rumah/mobil/motor/tanpa agunan dan kredit lainnya). Sehingga begitu kita terima gaji bulanan dapat langsung dipotong untuk membayar cicilan tersebut. Hal yang sama sebenarnya juga dapat kita lakukan untuk menabung atau investasi. Jadi begitu kita terima gaji bulanan, dapat langsung dipoton...