Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Ketika seorang wanita menjalani peran menjadi istri dan juga seorang ibu, seketika kebebasan yang dahulu dimiliki pun ikut berubah. Setelah menjadi istri tentunya demi menggapai ridho suami maka segala sesuatu yang sebelumnya dapat diputuskan sendiri haruslah seizin suami. Karena sudah tidak ada lagi aku namun semua berubah menjadi kami.
Lain lagi ketika sudah memiliki anak. Waktu yang tetap hanya 24 jam sehari terbagi lagi dengan bertambahnya tanggung jawab baru yang luar biasa amanahnya. Seorang ibu akan memindahkan pusat dunianya dari yang sebelumnya aku lalu menjadi kami sekarang menjadi kita, keluarga inti. Terlebih di usia anak-anak hingga balita.
Kebebasan seorang aku seakan sirna. 24 jam yang sebelumnya hanya untuk aku kini tidak bisa lagi. Bahkan terkadang 24 jam itu tak bersisa untuk seorang aku. Habis untuk anak dan suami serta seabreg peran lainnya yang menempel pada seorang wanita yang juga seorang istri, ibu, anak perempuan dari orang tuanya, dan berbagai peran lainnya.
Sudah merupakan suatu keputusan yang harus disadari bahwa ketika menikah dan mempunyai anak maka sebaiknya sudah selesai dengan diri sendiri. Karena kita melangkah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu yang akan membesarkan seorang anak pemilik generasi masa depan. Dimana pada masa depan tersebut bukanlah masa kita lagi.
Pun menyesuaikan diri dengan ritme dari masa sekolah ke kuliah hingga ke masa kantoran juga membutuhkan suatu adaptasi walau masih hanya aku, belum kami atau pun kita. Namun menyesuaikan ritme kehidupan dari seorang wanita single bekerja menjadi seorang istri bekerja lalu ibu bekerja dan kemudian menjadi ibu rumah tangga sangat banyak membutuhkan adaptasi. Sebuah pembelajaran hidup yang sangat menarik dan banyak hikmah disana.
Kebahagiaan yang dulu dirasa ketika masih seorang aku, kini kebahagiaan yang sama akan terasa berbeda. Karena kebahagiaan kini pun berubah seiring dengan berubahnya peran dan status kita.
Kebebasan yang dulu membuahkan suatu kebahagiaan apakah masih akan sama membahagiakannya saat ini ketika status sudah berubah?
Kini ku mungkin tak sebebas dahulu lagi. Namun kebebasan yang hilang diisi dengan ketergantungan orang-orang yang kucintai, hingga membelenggu kebebasanku kini. Tapi, itulah kebahagianku saat ini, yang tak kurasakan dulu. Alhamdulillah.
Hidup terus berjalan, kebebasan yang hakiki adakah? Karena manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang hidup membutuhkan dan berbagi dengan orang lain, maka kebebasan itu hanyalah ilusi. Kebergantungan dan kebermanfaatanlah yang akan menjadi kunci pintu suatu kebahagiaan.
Kini ku mungkin tak sebebas dahulu lagi. Namun kebebasan yang hilang diisi dengan ketergantungan orang-orang yang kucintai, hingga membelenggu kebebasanku kini. Tapi, itulah kebahagianku saat ini, yang tak kurasakan dulu. Alhamdulillah.
Hidup terus berjalan, kebebasan yang hakiki adakah? Karena manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang hidup membutuhkan dan berbagi dengan orang lain, maka kebebasan itu hanyalah ilusi. Kebergantungan dan kebermanfaatanlah yang akan menjadi kunci pintu suatu kebahagiaan.
![]() |
| Sumber:pixabay |

^^
BalasHapus