Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Selama aku memakai kacamata, aku mengganti kacamata itu ketika pandangannku sudah kabur pertanda minesnya sudah bertambah atau ketika kacamatanya sudah tidak layak pakai. Begitu pula ketika aku mengganti HPku, karena hilang atau sudah usang teknologinya. Jadi usia rata-rata kacamata dan HPku itu minimal diatas 2-3 tahun. Sedangkan kalau jam tangan sangat awet bisa bertahun-tahun lamanya, cukup rutin mengganti batere setiap per 1-2 tahun.
Namun ketika aku berganti status, sudah tidak single lagi dan mempunyai anak balita. Semua itu berubah. Baru genap anaknya berusia 5 tahun dan adiknya yang masih dibawah 3 tahun. Kacamata sudah 4x patah. 3 kacamataku, 1 kacamata suami dalam kurun waktu 2 tahun yang lalu.
Kalau HP bagaimana? HP sudah pecah/retak 4, 2 HPku dan 1HP suamiku serta 1HP ibuku alias eyangnya anak-anak. Saat ini pun hpku dan hp suamiku yang dipakai sudah retak. Padahal baru berusia 1 tahun. Sedangkan punya aku belum genap 1 bulan sudah retak terjatuh di tangan anak-anak. Hiks. Sampai-sampai HP eyangnya pun ikut menjadi korban.
Jam tangan? Ah sama juga. Jam tangan penuh kenangan suamiku pun pecah di tangan si kecil. Begitulah jika mempunyai anak kecil. Banyak sekali barang-barang yang perlu diamankan dari tangan-tangan si kecil yang penuh rasa ingin tau. Kacamata patah, HP pecah, jam tangan rusak hanyalah sebagian kecil namun termasuk barang berharga yang tak luput dari rasa keingintahuan anak-anakku.
Barang lain bagaimana? Oh, piring, mangkok dan gelas pun juga sama saja menjadi obyek rasa ingin tahu anak-anakku. Suara prang, krompyaaaang, taaar, sudah biasa terdengar.
Semua barang yang berada dalam radius jangkauan tangan anak-anak akan serta merta dieksplorasi. Barang apa pun itu.
Anak-anak memang penuh rasa ingin tahu. Penuh rasa imajinasi. Baginya ketika melihat dan menemukan suatu barang yang belum pernah dilihatnya, matanya akan berbinar dan mencoba memegang, memencet bahkan tak segan melempar serta menjatuhkannya. Hanya untuk mengetahui apakah barang tersebut kuat jika dilempar atau dijatuhkan.
Ah, begitulah rasa nano-nano suka dukanya menjadi seseorang yang diamanahkan malaikat-malaikat kecil di dalam rumah. Malaikat dengan wajah berbinar tanpa rasa dosa yang membuat berantakan seluruh penjuru rumah. Namun bisa apa kita? Selain senantiasa bersyukur karena dapat melihat pertumbuhan anak-anak kita menjadi dewasa dengan mengeksplorasi segala hal yang ada di depannya. Walau harus memakan korban kacamata, HP, jam tangan dan sederat barang duniawi milik kita.

Komentar
Posting Komentar