Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Selama aku memakai kacamata, aku mengganti kacamata itu ketika pandangannku sudah kabur pertanda minesnya sudah bertambah atau ketika kacamatanya sudah tidak layak pakai. Begitu pula ketika aku mengganti HPku, karena hilang atau sudah usang teknologinya. Jadi usia rata-rata kacamata dan HPku itu minimal diatas 2-3 tahun. Sedangkan kalau jam tangan sangat awet bisa bertahun-tahun lamanya, cukup rutin mengganti batere setiap per 1-2 tahun.
Namun ketika aku berganti status, sudah tidak single lagi dan mempunyai anak balita. Semua itu berubah. Baru genap anaknya berusia 5 tahun dan adiknya yang masih dibawah 3 tahun. Kacamata sudah 4x patah. 3 kacamataku, 1 kacamata suami dalam kurun waktu 2 tahun yang lalu.
Kalau HP bagaimana? HP sudah pecah/retak 4, 2 HPku dan 1HP suamiku serta 1HP ibuku alias eyangnya anak-anak. Saat ini pun hpku dan hp suamiku yang dipakai sudah retak. Padahal baru berusia 1 tahun. Sedangkan punya aku belum genap 1 bulan sudah retak terjatuh di tangan anak-anak. Hiks. Sampai-sampai HP eyangnya pun ikut menjadi korban.
Jam tangan? Ah sama juga. Jam tangan penuh kenangan suamiku pun pecah di tangan si kecil. Begitulah jika mempunyai anak kecil. Banyak sekali barang-barang yang perlu diamankan dari tangan-tangan si kecil yang penuh rasa ingin tau. Kacamata patah, HP pecah, jam tangan rusak hanyalah sebagian kecil namun termasuk barang berharga yang tak luput dari rasa keingintahuan anak-anakku.
Barang lain bagaimana? Oh, piring, mangkok dan gelas pun juga sama saja menjadi obyek rasa ingin tahu anak-anakku. Suara prang, krompyaaaang, taaar, sudah biasa terdengar.
Semua barang yang berada dalam radius jangkauan tangan anak-anak akan serta merta dieksplorasi. Barang apa pun itu.
Anak-anak memang penuh rasa ingin tahu. Penuh rasa imajinasi. Baginya ketika melihat dan menemukan suatu barang yang belum pernah dilihatnya, matanya akan berbinar dan mencoba memegang, memencet bahkan tak segan melempar serta menjatuhkannya. Hanya untuk mengetahui apakah barang tersebut kuat jika dilempar atau dijatuhkan.
Ah, begitulah rasa nano-nano suka dukanya menjadi seseorang yang diamanahkan malaikat-malaikat kecil di dalam rumah. Malaikat dengan wajah berbinar tanpa rasa dosa yang membuat berantakan seluruh penjuru rumah. Namun bisa apa kita? Selain senantiasa bersyukur karena dapat melihat pertumbuhan anak-anak kita menjadi dewasa dengan mengeksplorasi segala hal yang ada di depannya. Walau harus memakan korban kacamata, HP, jam tangan dan sederat barang duniawi milik kita.

Komentar
Posting Komentar