Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Hari ini anakku merajuk tidak mau berangkat mengaji jika setelah pulang mengaji tidak diajak jalan-jalan ke Mall. Sebenarnya aku tidak ingin meluluskan persyaratannya, mengingat pasti akan kecapaian, walau mamanya doyan ke mall juga. Namun akhirnya kuiyakan, jika bapaknya mengizinkan.
Berangkatlah kami setelah selesai mengaji ke mall, setelah sebelumnya menjemput papanya terlebih dahulu yang kebetulan tidak lembur. Sesampainya di mall, anakku yang biasanya girang, berlarian kesana kemari, kali ini tidak. Minta digendong, jongkok. Benar saja, sepulangnya dari mall akhirnya demam. Kami pun akhirnya hanya sebentar saja di mall. Padahal mamanya udah senang tuh melihat diskon bertebaran dimana-mana. Sempat kesal juga aku. Udah jauh-jauh ke mall, baru sampai pintu masuk dan mengantri makanan yang sedang diskon 60%, si kakak sudah mulai rewel.
Esoknya walau demam sudah turun, namun anakku masih mengeluh pusing dan hanya ingin berbaring saja. Menjelang siang, setelah kusuapi makan pagi, kupeluk ia erat sambil kuelus-elus rambutnya. Ajaibnya jam 10.00 ia merasa enakan, sambil berkata, "Kok aku bisa sembuh sih mah, padahal cuma dipeluk mama saja?"
Nah, aku langsung berpikir, saat ini saat yang tepat untuk berkomunikasi dengan kakak. Aku pun berbisik, "Iya, sayang. Mama mentransfer energi cinta mama untuk mocha, supaya mocha kuat melawan penyakit dan cepat sembuh." Aku langsung ingat salah satu poin dari komunikasi produktif yaitu *refleksi pengalaman*. Saat ini adalah saat yang tepat untuk hal itu. Sambil kudekap erat dan kuelus rambutnya, kuberucap, "Kakak tau gak kenapa bisa sakit seperti ini? Padahal kemarin sehat-sehat saja sepulang sekolah dan sebelum mengaji?"
"Aku nggak tau, Ma.", katanya. "Kakak itu jika hari sekolah, pasti capek. Karena paginya sudah sekolah lalu sorenya mengaji. Namun kemarin, kakak memaksa minta jalan-jalan ke mall. Akhirnya, baru saja sampai di pintu masuk Mall, kakak sudah merasa capek. Padahal sebelumnya tidak apa-apa kan? Itu tandanya kakak kecapaian.", kataku. Kakak pun manggut-manggut mendengarkan kata-kataku.
Lali aku pun melanjutkan, "Besok-besok kalau hari sekolah masih minta ke Mall lagi gak?". Ia langsung berkata, "Enggak, Mah. Kalau hari sekolah aku gak akan minta ke Mall lagi."
Refleksi pengalaman adalah salah satu cara jitu komunikasi produktif aku dengan anak. Karena terkadang dengan dilarang ini itu, anak tidak merasakan sendiri akibat dari keinginannya. Maka terkadang kubiarkan si anak untuk merasakan pengalaman sendiri, dan setelahnya kuajak berefleksi atas pengalaman yang sudah dirasakannya.
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Berangkatlah kami setelah selesai mengaji ke mall, setelah sebelumnya menjemput papanya terlebih dahulu yang kebetulan tidak lembur. Sesampainya di mall, anakku yang biasanya girang, berlarian kesana kemari, kali ini tidak. Minta digendong, jongkok. Benar saja, sepulangnya dari mall akhirnya demam. Kami pun akhirnya hanya sebentar saja di mall. Padahal mamanya udah senang tuh melihat diskon bertebaran dimana-mana. Sempat kesal juga aku. Udah jauh-jauh ke mall, baru sampai pintu masuk dan mengantri makanan yang sedang diskon 60%, si kakak sudah mulai rewel.
Esoknya walau demam sudah turun, namun anakku masih mengeluh pusing dan hanya ingin berbaring saja. Menjelang siang, setelah kusuapi makan pagi, kupeluk ia erat sambil kuelus-elus rambutnya. Ajaibnya jam 10.00 ia merasa enakan, sambil berkata, "Kok aku bisa sembuh sih mah, padahal cuma dipeluk mama saja?"
Nah, aku langsung berpikir, saat ini saat yang tepat untuk berkomunikasi dengan kakak. Aku pun berbisik, "Iya, sayang. Mama mentransfer energi cinta mama untuk mocha, supaya mocha kuat melawan penyakit dan cepat sembuh." Aku langsung ingat salah satu poin dari komunikasi produktif yaitu *refleksi pengalaman*. Saat ini adalah saat yang tepat untuk hal itu. Sambil kudekap erat dan kuelus rambutnya, kuberucap, "Kakak tau gak kenapa bisa sakit seperti ini? Padahal kemarin sehat-sehat saja sepulang sekolah dan sebelum mengaji?"
"Aku nggak tau, Ma.", katanya. "Kakak itu jika hari sekolah, pasti capek. Karena paginya sudah sekolah lalu sorenya mengaji. Namun kemarin, kakak memaksa minta jalan-jalan ke mall. Akhirnya, baru saja sampai di pintu masuk Mall, kakak sudah merasa capek. Padahal sebelumnya tidak apa-apa kan? Itu tandanya kakak kecapaian.", kataku. Kakak pun manggut-manggut mendengarkan kata-kataku.
Lali aku pun melanjutkan, "Besok-besok kalau hari sekolah masih minta ke Mall lagi gak?". Ia langsung berkata, "Enggak, Mah. Kalau hari sekolah aku gak akan minta ke Mall lagi."
Refleksi pengalaman adalah salah satu cara jitu komunikasi produktif aku dengan anak. Karena terkadang dengan dilarang ini itu, anak tidak merasakan sendiri akibat dari keinginannya. Maka terkadang kubiarkan si anak untuk merasakan pengalaman sendiri, dan setelahnya kuajak berefleksi atas pengalaman yang sudah dirasakannya.
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional
Komentar
Posting Komentar