Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Perempuan Pekerja di Sekitarku

Pagi ini aku bersama para bunda TK Kakak, berkunjung ke dua bunda yang baru melahirkan. Berhubung rumahnya agak dekat dengan sekolahan maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kesana. Nyatanya agak jauh ya, untungnya kontur jalanannya menurun.

Berjalan kaki bersama-sama, berdua-dua sepanjang jalan menuju ke rumah bunda tersebut, membuatku menangkap banyak pemandangan yang jarang kutemui sebelumnya. Padahal hampir setiap hari aku melewati jalan ini ketika mengantar dan menjemput kakak sekolah dengan motor ataupun mobil.

Dengan berjalan kaki, kami pun menyapa ibu-ibu atau para lansia yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Hal demikian tentunya tak bisa kami lakukan jika mengendarai motor atau pun mobil. Silahturahmi dan keramahan sangat terasa di bumi jawa ini.

Tak berapa lama aku berpapasan dengan ibu berusia 40-50 tahunan yang membawa bakul berisi sayuran menawarkan sayurannya ke rumah-rumah yang dilewatinya sambil mengetuk pintunya. Kontur jalanan cukup menanjak. Dapat dibayangkan betapa berat membawa bakul tersebut digendong seperti membawa jamu gendong.

Kemudian aku juga berpapasan dengan nenek usia renta, bajunya pun cukup lusuh masih menggunakan kain dan kebaya serta capingnya menjajakan keripik singkong mentah berbentuk bulat tipis besar. Sepertinya dibuat sendiri olehnya dan dijajakannya sendiri pula. Beliau pun menawarkan kepadaku seraya tersenyum dengan bahasa jawa halus sekali yang aku tidak mengerti. Walaupun aku orang jawa tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak paham bahasa jawa halus.

Kulihat di ibukota Jawa Tengah ini masih banyak perempuan yang mencari nafkah baik dengan berjualan atau pun menawarkan tenaga. Walau usia sudah renta. Bahkan buruh bangunan disini pun perempuan juga banyak. Aku melihat beberapa sedang membangun rumah bersama buruh bangunan pria dan mandornya. Hal yang tak pernah kudapati terlihat di Jakarta seorang buruh bangunan adalah perempuan.

Sungguh besar semangat para perempuan pekerja tersebut. Walau begitu hal yang kurasakan disini adalah rejeki itu pasti, lebih terasa khususnya bagi pekerja yang bukan kantoran. Karena dengan berjualan dengan niat ikhlas dan memberikan solusi, jika memang rejeki pasti akan datang dan banyak yang membeli. Berbeda dengan kerja kantoran yang sudah pasti dapat sekian rupiah sepanjang datang ke kantor sesuai jam kerja dan mengerjakan pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya. Namun bukan berarti terus ngoyo, bekerja tak menentu tanpa waktu, ritme kehidupan disini seimbang, sejauh aku mengamati rata-rata tipikal orangnya ikhlas sepanjang dengan sudah berusaha dan menerima rejeki yang sudah dijemput pada hari tersebut berapa pun itu. Jam kerja disini juga banyak yang flexible (4 jam atau 6 jam atau 8 jam), tipikal yang sangat tidak mau diminta lembur apalagi di hari weekend. Tapi rata-rata sabtu memang masuk kerja setengah hari dimana hari senin-jumatnya antara 4-8 jam.

Pagi-pagi kulihat masih banyak bapak-bapak yang berjalan di kompleks bersama anaknya ke taman sebelum berangkat sekolah atau bekerja. Jam 4 sudah mulai berdatangan baik bunda atau papanya dari tempat bekerjanya. Memang wirausaha lebih banyak proporsinya dibanding pegawai kantoran disekelilingku.

Pelajaran yang kupetik adalah bahwa rejeki itu pasti, bisa berbentuk apa saja, walau itu hanya waktu kebersamaan bersama keluarga, pulang mencari nafkah tepat waktu, jalanan tidak macet, dan anak menyambut riang di rumah atau hanya sekedar dapat bersama-sama 24 jam bersama buah hati di rumah.

#ODOP #onedayonepost #nonfiksi #61thpost

Komentar

  1. Rejeki kadang datang tak terduga dari arah yang tidak di sangka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mba, rejeki akan datang menghampiri tuannya.

      Hapus
  2. karena rejeki itu bukan melulu masalah gaji ya mbak?

    BalasHapus
  3. Nice mbak. Banyak2 bersyukur ya mbak :)

    BalasHapus
  4. Belum pernah lihat buruh bangunan perempuan. Pasti mereka perempuan tangguh.

    BalasHapus
  5. bersyukur, maka Allah akan tambah nikmat kepada kita.

    BalasHapus
  6. Di tempat kerja ku, mayoritas perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di tempat kerjaku malah kebalikannya mba Lulu, perempuannya cuma satu

      Hapus
  7. Inspiratif banget mba tulisannya 😍

    BalasHapus
  8. Jadi inget pesan ibu Septi deh mba. "Rezeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari" 😊

    BalasHapus
  9. Jadi keinget puisi perempuan perempuan perkasa

    BalasHapus

Posting Komentar