Langsung ke konten utama

Memaafkan atau Waktu yang akan Menyembuhkan Luka?

Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill."  Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan.  " Forgiveness is a choice", dalam bukunya   Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...

Depresi? Kenalan yuk dengan Endri dan dr. Andri

https://mydailylifeotherstory.blogspot.com/2018/11/depresi-kenalan-yuk-dengan-endri-dan.html?m=1

Dalam kehidupan ini ada suka ada lara. Jika berduka terlalu lama hingga tidak mempunyai semangat hidup lagi bahkan datang pikiran untuk ingin mengakhirinya, maka depresi telah mengintai.

Mengamati kehidupan dari berbagai sudut pandang merupakan salah satu yang aku gemari. Mencoba memposisikan diri pada kondisi orang-orang dan berusaha menyelami pikiran serta alasan dibalik dari yang dilakukannya juga sangat menarik untuk dipahami.

Seringkali stigma tentang orang yang terkena depresi itu diberikan oleh masyarakat umum karena kurangnya rasa bersyukur, agamanya tidak kuat, orangnya lemah bahkan dianggap gila.

Stigma inilah yang membuat orang-orang yang merasa depresi makin merasa sendiri, makin merasa tidak berguna dan malu terhadap dirinya sendiri. Masyarakat pada umumnya juga tidak peduli bahkan cenderung mencemooh dengan melabelkan stigma diatas. Hanya orang-orang yang menyayangi dan peduli yang akan setia senantiasa mendampingi orang yang sedang depresi (baca:orang tua, sahabat, pasangan).

Namun mendampingi orang yang sedang depresi juga membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, karena orang yang sedang depresi berat benar-benar sudah kehilangan daya dan upayanya untuk dapat menjalani hidup dengan normal. Mendampingi orang yang sedang depresi pun harus juga berhati-hati dengan kesehatan mentalnya sendiri, karena sangat menguras energi dan bisa juga menjadi terkena depresi ringan.

Aku menemukan channel youtube serta blog dan website dari salah seorang survivor suicide dan seorang dokter spesialis kejiwaan yang sangat informatif.

Dia bernama Endri Budiwan, seorang dokter penerima beasiswa yang berusaha mengakhiri hidupnya setelah wisuda S2 di Swedia namun berhasil selamat karena digagalkan oleh polisi setempat yang datang karena dihubungi oleh sahabatnya.

Pada channel vlog dan blognya (https://www.youtube.com/channel/UCU0UF-NK9w5Uqo-bhSn9_xg dan http://liquidkermit.net/), dia berbagi kisahnya tentang bagaimana dapat bangkit dari depresi, edukasi kepada para pembacanya tentang depresi dari sudut pandang orang yang pernah mengalaminya dan pentingnya peran orang-orang yang dapat membantu seseorang untuk sembuh dari depresinya.

Selain Endri, aku juga menemukan channel youtube serta website dari seorang dokter ahli jiwa yaitu dr.Andri SpKJ, FAPM yang sering mengikuti berbagai seminar baik di luar dan di dalam negeri terkait penyakit depresi.

Beliau sering berbagi tips serta saran bagi para penderita depresi dan juga edukasi masyarakat umum tentang apa sebenarnya depresi itu dan bagaimana menyikapinya serta berusaha meluruskan stigma-stigma yang ada.

Website dan channel youtubenya ada pada alamat berikut http://www.psikosomatik.net/?m=1 dan https://www.youtube.com/user/mbahndi). Subcriber dari channel youtubenya cukup banyak sekitar 16ribuan dengan puluhan video yang diuploadnya secara rutin yang ditonton ribuan kali.

Kedua channel ini sangat informatif membahas tentang depresi baik dari sudut pandang penderita dan sudut pandang seorang dokter serta mudah dicerna dan dipahami. Semoga dengan hadirnya kedua channel ini dapat menjadi solusi dan media edukasi serta mengurangi tingkat depresi dan angka bunuh diri yang disebabkan oleh depresi.

Ketika semua orang berlomba-lomba untuk menggapai kehidupan penuh makna, ternyata ada banyak orang ingin untuk meninggalkan dan selesai dengan hidupnya. Mereka inilah yang perlu dibantu oleh kita semua untuk memperjelas kacamatanya dalam melihat dan menyikapi kehidupan.

#onedayonepost #70thpost

Komentar

  1. Keren mbak saya baru tau channel youtube ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru nemu karena wajib ada review gadget. Hehehe.

      Hapus
  2. Depresi memang bukan krn kurang iman ya? G sangka justru seorang spesialis kejiwaan pernah mencoba bunuh diri. Thanks for sharing mba Tya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Depresumi bisa terjadi karena ketidakseimbangan kimiawi otak. Bahkan kadang tanpa alasan atau pemicu apa pun. Jadi sayang ya kebanyakan orang memberikan stigma kurang iman. Btw mbaaaa yg Andri itu dr spesialis kejiwaan dan yang Endri itu survivor suicide yang seorang dokter umum yang ambil S2 di swedia dengan beasiswa (jadi andribm dan Endri ini 2 orang yang berbeda). Koreksi ya mbaaa...apa aku salah tulisnya yah?

      Hapus
  3. Wahhh makasih infonya. Bisa jd referensi klo ada temen yg curhat mulai stress ato depresi

    BalasHapus

Posting Komentar