Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/11/26/beasiswa-ke-negeri-orange-tak-batasan-usia Simak tulisanku yang dimuat pada situs goodnewsfromindonesia yaaa. Sebelum membaca lanjutannya dibawah ini. Kali ini tentang beasiswa yang tak berbatas usia. Mempunyai mimpi untuk mengenyam pendidikan di negeri orang bukan hanya milik anak-anak muda saja. Usia setelah kepala 3 atau bahkan kepala 4 mungkin masih menyimpan asa untuk mengejar gelar master ataupun gelar Phd. Banyaknya beasiswa yang memberikan persyaratan usia untuk melamarnya menyurutkan asa orang-orang yang sudah tidak muda lagi. Seakan hak untuk belajar dengan beasiswa hanya milik anak-anak muda saja. Namun akhirnya kutemukan beasiswa penuh yang tanpa batasan usia untuk menggapai gelar master. Bahkan untuk freelancer pun dapat mencoba untuk melamar beasiswa ini sepanjang telah bekerja selama 2 tahun. Fresh Graduate pun juga welcome to apply . Beasiswa itu adalah Beasiswa Stuned atau beasiswa untuk studi di Belanda yang d...