Itulah pertanyaanku ke narasumber ketika mengikuti Workshop Forgiveness Therapy yang diadakan oleh Dandiah Care, dengan foundernya adalah pasangan suami istri dari Ibu Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Pak Dandi Birdy, S.Psi. Workshop Forgiveness Therapy ini dibawakan oleh 5 orang narasumber, yang tidak hanya menjelaskan konsep dan teori tentang ilmu memaafkan ini namun juga membersamai dengan praktek secara langsung, langkah-langkah kecil yang dilakukan untuk bisa sampai pada keputusan memaafkan. Apakah benar waktu akan menyembuhkan luka? Berapa lama waktu yang dibutuhkan idealnya untuk menyembuhkan suatu luka? Selama ini kalimat " Time will heal." itu seakan jawaban. Namun ternyata kalimat itu belum lengkap, "Time will heal or kill." Memaafkanlah yang akan menyembuhkan luka. Tidak ada hubungannya dengan waktu. Dibutuhkan keputusan sadar untuk memaafkan. " Forgiveness is a choice", dalam bukunya Robert D. Enright mengatakan ada 4 tahapan...
Battle of Surabaya, 10 November, No Glory in War, Film Animasi tentang Sejarah yang Cocok untuk Anak-Anak
Aku sebenarnya pernah melihat poster film ini di bioskop beberapa tahun lalu. Ternyata film ini sudah pernah diputar di bioskop pada tahun 2015. Saat itu aku tidak tertarik untuk menontonnya bahkan hingga saat kemarin 17 agustus 2020.
Film animasi karya anak bangsa ini ternyata banyak mendapatkan award dan nominasi. Jika biasanya kisah di buku diangkat ke layar lebar maka kebalikannya kisah di film ini ditulis bentuk novelnya. Sayangnya ketika diputar di bioskop hanya 200.000 saja penontonnya. Bandingkan dengan film-film box office atau film romansa indonesia yang bisa menembus angka jutaan penonton di bioskop.
Film ini benar-benar cocok ditonton oleh anak-anak. Sudut pandang dari pemeran utamanya yang seorang anak kecil sangat membantu bagi anak-anak yang menonton filmnya. Belajar sejarah melalui film itu tentu lebih menarik daripada membaca buku teks pelajaran sejarah di sekolah atau menonton film dokumenter yang cenderung monoton. Sayang sekali film sebagus ini hanya ditonton sedikit sekali saat tayang di bioskop.
Namun ternyata kemendikbud pada tanggal 17 Agustus 2020 kemarin menyelenggarakan nonton bareng virtual yang diikuti oleh 4000 pelajar dari SD hingga SMU/SMK. Dan juga sudah diputar pula di stasiun televisi RTV pada tanggal 17 Agustus 2020. Aku pun tak ketinggalan ikutan menonton bersama anak-anakku di rumah.
Melalui film ini lebih mudah untuk menjelaskan arti tentang kemerdekaan dan perjuangan para pahlawan. Bahwa ternyata ada juga pengkhianat bangsa. Jiwa Pahlawan itu tidak hanya milik pemuda-pemudi atau pun orang dewasa. Namun anak kecil seperti Musa (pemeran utama) pun juga mempunyai jwa pahlawan dan peran yang penting. Jas Merah (jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah) itu memang benar adanya. Jangan biarkan generasi muda kita lupa akan sejarah. Semoga pelajaran sejarah bukan menjadi suatu momok dan semakin banyak film-film bertemakan sejarah yang menarik untuk ditonton anak-anak sehingga pesan perjuangan pun dapat sampai kepada mereka semua. Karena merekalah yang akan menjadi masa depan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Komentar
Posting Komentar