Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Kusangka keesokan paginya, adik akan mencari-cari mainannya. Namun ternyata adiknya cuek saja. Serasa tidak kehilangan mainan.
Setelah kupelajari, adik itu ingin memainkan mainan yang terlihat di depan matanya. Jika mainan itu tidak terlihat di depan matanya ya, dia tidak mencarinya atau bahkan lupa dengan mainannya.
Berbeda dengan kakaknya yang hafal dengan setiap mainannya. Dia akan menanyakan mainannya ada dimana jika tidak terlihat di tempatnya semula.
Untuk sementara kemandirian untuk membereskan mainan untuk si kakak patut diacungi jempol. Yeay.
Komentar
Posting Komentar