Literasi keuangan itu salah satu soft skill yang sangat penting. Semua orang seharusnya menguasai skill ini, termasuk perempuan Indonesia. Seharusnya literasi keuangan itu bukan hanya privillage dimiliki oleh orang-orang berduit. Justru dimulai sejak dini, sejak kecil, sebelum berpenghasilan sendiri sudah harus mulai dikenalkan sehingga pada waktunya nanti sudah paham bagaimana cara mengelola keuangan. Bersamaan dengan peringatan Hari Kartini kemarin, diskusi hangat dengan seorang ibu yang juga seorang praktisi keuangan (Mbak Dedek Gunawan S.E, M.A, CFP) dan ibu dosen (Bu Diana Anggraini S.T, M.Si) walau via zoom, terasa sangat dekat sekali dengan kejadian terkait keuangan yang hadir sehari-hari. Female digest memang selalu berbobot kalau buat acara, banyak sekali pertanyaan terkait keuangan, untungnya dimoderatori oleh Community Development Managernya (Mbak Ruth Ninajanty B.A) yang selalu sigap membantu para peserta. Belum lagi dukungan dari Paragon Corp, Wardah Beaut...
Kasus 16 mahasiswa FHUI adalah cermin budaya lama yang masih menghantui perempuan di dunia kerja. Ini adalah refleksi pribadi tentang luka yang dianggap lelucon. Membaca kabar mengenai kasus viral di Fakultas Hukum Universitas Indonesia belakangan ini—tentang 16 mahasiswa dan grup percakapan yang merendahkan martabat dosen serta mahasiswi lainnya—membawa saya kembali ke sebuah memori yang sudah cukup lama saya simpan rapat. Sebuah Cerita dari Meja Kerja Pertama Tahun pertama saya bekerja, saya adalah satu-satunya perempuan di sebuah tim yang cukup solid. Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Namun perlahan, saya mulai menyadari ada batas-batas yang samar-samar dilanggar. Ada lelucon-lelucon yang membuat saya harus menarik napas panjang, atau komentar tentang fisik yang disampaikan seolah-olah itu adalah pujian yang wajar. Saat itu, saya memilih untuk diam. Bukan karena saya setuju, tapi karena saya tidak ingin dianggap sebagai "perempuan yang kaku" atau ...