Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Kasus 16 mahasiswa FHUI adalah cermin budaya lama yang masih menghantui perempuan di dunia kerja. Ini adalah refleksi pribadi tentang luka yang dianggap lelucon. Membaca kabar mengenai kasus viral di Fakultas Hukum Universitas Indonesia belakangan ini—tentang 16 mahasiswa dan grup percakapan yang merendahkan martabat dosen serta mahasiswi lainnya—membawa saya kembali ke sebuah memori yang sudah cukup lama saya simpan rapat. Sebuah Cerita dari Meja Kerja Pertama Tahun pertama saya bekerja, saya adalah satu-satunya perempuan di sebuah tim yang cukup solid. Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Namun perlahan, saya mulai menyadari ada batas-batas yang samar-samar dilanggar. Ada lelucon-lelucon yang membuat saya harus menarik napas panjang, atau komentar tentang fisik yang disampaikan seolah-olah itu adalah pujian yang wajar. Saat itu, saya memilih untuk diam. Bukan karena saya setuju, tapi karena saya tidak ingin dianggap sebagai "perempuan yang kaku" atau ...