Literasi keuangan itu salah satu soft skill yang sangat penting. Semua orang seharusnya menguasai skill ini, termasuk perempuan Indonesia. Seharusnya literasi keuangan itu bukan hanya privillage dimiliki oleh orang-orang berduit. Justru dimulai sejak dini, sejak kecil, sebelum berpenghasilan sendiri sudah harus mulai dikenalkan sehingga pada waktunya nanti sudah paham bagaimana cara mengelola keuangan. Bersamaan dengan peringatan Hari Kartini kemarin, diskusi hangat dengan seorang ibu yang juga seorang praktisi keuangan (Mbak Dedek Gunawan S.E, M.A, CFP) dan ibu dosen (Bu Diana Anggraini S.T, M.Si) walau via zoom, terasa sangat dekat sekali dengan kejadian terkait keuangan yang hadir sehari-hari. Female digest memang selalu berbobot kalau buat acara, banyak sekali pertanyaan terkait keuangan, untungnya dimoderatori oleh Community Development Managernya (Mbak Ruth Ninajanty B.A) yang selalu sigap membantu para peserta. Belum lagi dukungan dari Paragon Corp, Wardah Beaut...
Literasi keuangan itu salah satu soft skill yang sangat penting. Semua orang seharusnya menguasai skill ini, termasuk perempuan Indonesia.

Seharusnya literasi keuangan itu bukan hanya privillage dimiliki oleh orang-orang berduit. Justru dimulai sejak dini, sejak kecil, sebelum berpenghasilan sendiri sudah harus mulai dikenalkan sehingga pada waktunya nanti sudah paham bagaimana cara mengelola keuangan.
Bersamaan dengan peringatan Hari Kartini kemarin, diskusi hangat dengan seorang ibu yang juga seorang praktisi keuangan (Mbak Dedek Gunawan S.E, M.A, CFP) dan ibu dosen (Bu Diana Anggraini S.T, M.Si) walau via zoom, terasa sangat dekat sekali dengan kejadian terkait keuangan yang hadir sehari-hari.
Female digest memang selalu berbobot kalau buat acara, banyak sekali pertanyaan terkait keuangan, untungnya dimoderatori oleh Community Development Managernya (Mbak Ruth Ninajanty B.A) yang selalu sigap membantu para peserta. Belum lagi dukungan dari Paragon Corp, Wardah Beauty, Nutrifood, Tropicana Slim yang buat makin bersemangat nih.
Sekian banyaknya insight yang diberikan, berikut yang benar-benar membuat tersadar kalau perempuan itu harus lebih melek literasi dibanding laki-laki:
Biaya Hidup Perempuan Lebih Tinggi dari Laki-laki
Masa iya sih? Ternyata iya banget, contoh simplenya aja, kalau perempuan butuh skincare A to Z plus make up, kalau laki-laki kan gak butuh ya.
Biaya Hidup Makin Meningkat, Gaji Kalah dengan Inflasi
Gaji terkadang tiap tahunnya belum tentu naik namun harga-harga sembako tiap tahunnya pasti naik ya.
Karir On dan Off
Perempuan lebih rentan karena ada masa melahirkan, menyusui, hamil yang terkadang tidak memberikan pilihan untuk bisa tetap bekerja. Gaji terhenti sebelum pensiun, sulit cari kerja lagi sehingga hilang penghasilan menjadikannya bergantung pada suami.
Mayoritas Perempuan, Mengelola Keuangan Keluarga
Banyak sekali para suami yang memberikan nafkah keluarga dan mempercayakan pengelolaannya kepada istri, terkadang tanpa peduli apakah sebenarnya cukup atau tidak nafkah tersebut.
Tingkat Harapan Hidup Perempuan Lebih Tinggi daripada Laki-laki
Kebayang donk kalau perempuan, sumber penghasilannya hanya dari suami lalu tiba-tiba ditinggalkan oleh suami. Belum lagi jika masih ada anak-anak yang masih membutuhkan biaya.
Jadi sadarkan, betapa pentingnya melek keuangan buat perempuan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk keberlangsungan kenyamanan keluarganya. Gak ada gunanya uang banyak kalau tidak dikelola dengan baik. Apalagi kalau uangnya pas-pasan, harus lebih jago lagi mengelolanya. Kalau kurang gimana?
Ada satu pertanyaan dari peserta kalau gak ada uangnya, apanya yang harus dikelola?
Hmm. Ternyata mengelola uang itu harus dimulai dari mengelola mindset dulu tentang uang. Mindset ini yang sangat penting, bukan jumlah uangnya. Mindset tentang memahami kebutuhan vs keinginan. Mindset tentang nilai uang yang semakin kecil karena inflasi. Mindset tentang menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran ketika uang dirasa pas-pasan. Pahami dulu bagaimana cara uang ini bekerja, pahami juga perilaku diri ketika dihadapkan dengan uang. Jadi jangan belajar mengelola keuangan ketika uangnya ada ya, sudah terlambat karena kebiasaan dan mindset diri terhadap uang sudah terbentuk.
Belum lagi gempuran dunia digital yang semakin membuat kita sangat mudah dalam mengeluarkan uang. Tinggal klik, check out, uang pun berpindah dari kantong. Tidak perlu effort harus pergi ke toko dulu, harus siapin uang cash pergi ke atm, harus cari parkir atau naik kendaraan umum dulu menuju toko. Di dunia serba digital ini, tanpa literasi keuangan, dijamin auto boncos dan akan mudah terjebak dalam pusaran hutang konsumtif.
Perempuan Indonesia harus sadar kalau e-commerce itu memang didesign untuk mengetahui perilaku belanja kita. 
Waduh, terus bagaimana donk? Ada tips jitu nih supaya tidak terjebak.
Jangan langsung check out
Tunggu 24 jam, lalu tengok lagi, apakah aku butuh barang ini? apakah aku tetap akan membeli barang ini kalau tidak diskon? Jika ya berarti barang tersebut merupakan kebutuhan. Tapi jika tidak, selamat anda baru saja bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Batasi waktu scrooll di e-commerce dan sosial media
Terkadang iklan bertubi-tubi tanpa terasa hadir selalu di FYP dan live para penjual di e-commerce itu begitu menggiurkan. Tidak ada jalan lain, bukalah e-commerce ketika butuh barang yang mau dibeli, ketik kata kunci, pilih, masukkan keranjang, check out lalu langsung keluar lagi dari e-commerce supaya tidak terpapar godaan-godaan jempol untuk klik sana sini. Skip konten-konten endorse di sosmed, algoritma akan membaca bahwa kamu tidak suka konten endorse maka konten endorse akan jarang muncul di FYP kamu.
Dua tips ini jujur yang paling gong ya, dan yang paling membantu untuk mengkontrol bocor-bocor pengeluaran tidak penting yang endingnya bikin menyesal, duh kenapa ya aku beli barang itu. Apalagi kalau ketika datang, barangnya tidak sesuai dengan harapan.
Mengingat sebagian besar perempuan adalah yang menjadi manajer keuangan di keluarga, atau mungkin ada juga yang hanya sebagai penasehat keuangan. Perempuan melek literasi digital menjadi sangat penting khususnya ketika dihadapkan juga dengan maraknya penipuan online.
Penipuan online via WA, Instagram, Facebook, telegram sangat bisa menguras seluruh tabungan pribadi dan juga tabungan keluarga bahkan tabungan hari tua kita. Bukan hanya itu penipuan online terkadang memaksa kita sampai berhutang. Jika sudah kejadian, siapa yang tidak menyesal.
Oleh karena itu yuk kita perempuan Indonesia gak cuma harus melek literasu keungan namjn juga melek literasi digital.
Komentar
Posting Komentar