Langsung ke konten utama

Kasus 16 Mahasiswa FHUI: Dampak Nyata Pelecehan Verbal di Kampus dan Dunia Kerja

Kasus 16 mahasiswa FHUI adalah cermin budaya lama yang masih menghantui perempuan di dunia kerja. Ini adalah refleksi pribadi tentang luka yang dianggap lelucon. Membaca kabar mengenai kasus viral di Fakultas Hukum Universitas Indonesia belakangan ini—tentang 16 mahasiswa dan grup percakapan yang merendahkan martabat dosen serta mahasiswi lainnya—membawa saya kembali ke sebuah memori yang sudah cukup lama saya simpan rapat. Sebuah Cerita dari Meja Kerja Pertama Tahun pertama saya bekerja, saya adalah satu-satunya perempuan di sebuah tim yang cukup solid. Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Namun perlahan, saya mulai menyadari ada batas-batas yang samar-samar dilanggar. Ada lelucon-lelucon yang membuat saya harus menarik napas panjang, atau komentar tentang fisik yang disampaikan seolah-olah itu adalah pujian yang wajar. Saat itu, saya memilih untuk diam. Bukan karena saya setuju, tapi karena saya tidak ingin dianggap sebagai "perempuan yang kaku" atau ...

Kasus 16 Mahasiswa FHUI: Dampak Nyata Pelecehan Verbal di Kampus dan Dunia Kerja

Kasus 16 mahasiswa FHUI adalah cermin budaya lama yang masih menghantui perempuan di dunia kerja. Ini adalah refleksi pribadi tentang luka yang dianggap lelucon.


Membaca kabar mengenai kasus viral di Fakultas Hukum Universitas Indonesia belakangan ini—tentang 16 mahasiswa dan grup percakapan yang merendahkan martabat dosen serta mahasiswi lainnya—membawa saya kembali ke sebuah memori yang sudah cukup lama saya simpan rapat.

Sebuah Cerita dari Meja Kerja Pertama
Tahun pertama saya bekerja, saya adalah satu-satunya perempuan di sebuah tim yang cukup solid. Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Namun perlahan, saya mulai menyadari ada batas-batas yang samar-samar dilanggar. Ada lelucon-lelucon yang membuat saya harus menarik napas panjang, atau komentar tentang fisik yang disampaikan seolah-olah itu adalah pujian yang wajar.

Saat itu, saya memilih untuk diam. Bukan karena saya setuju, tapi karena saya tidak ingin dianggap sebagai "perempuan yang kaku" atau "perusak suasana" di tengah kekompakan mereka. Saya belajar untuk menganggap ucapan-ucapan tersebut sebagai angin lalu, tetapi sebenarnya sangat melukai harga diri saya sebagai perempuan. Walau sebenarnya yang dibercandakan adalah perempuan lain, namun tetap saja sebagai perempuan, ingin rasanya berteriak kepada mereka semua. Apakah memang dunia kerja seperti ini? 

Ketika "Bercanda" Menjadi Normalisasi
Melihat kasus grup chat tersebut, saya melihat pola yang serupa. Seringkali, pelecehan verbal dianggap remeh karena tidak melibatkan kontak fisik. Namun, bagi mereka yang menjadi subjek di dalamnya, rasanya tetap saja sesak. Ada rasa tidak aman yang tumbuh tiap kali kita harus berpapasan dengan orang-orang yang, di belakang kita, membicarakan kita sebagai objek, bukan sebagai manusia. 

Jika saat ini di bangku kuliah/sekolahan sudah menjadi "normal" tak heran jika nanti kebiasaan ini pun akan semakin menjamur di dunia kerja terdidik. Terlebih dilakukan di ruang tertutup seperti whatsapp grup. 

Banyak yang bertanya, kenapa baru sekarang terbongkar? Kenapa para korban baru bersuara? Jawabannya sederhana: karena melawan sebuah "kebiasaan" yang sudah dianggap normal itu luar biasa beratnya. 

Integritas di Balik Gelar Akademik
Yang membuat hati saya sedikit pedih adalah mereka yang terlibat merupakan mahasiswa hukum—orang-orang yang nantinya akan memegang kendali atas keadilan di negeri ini. Pendidikan setinggi apa pun, jika tidak dibarengi dengan empati, hanya akan menghasilkan kecerdasan yang kehilangan nuraninya. 

Kasus ini bukan hanya soal memberi hukuman atau menjaga nama baik kampus. Ini adalah pengingat bagi kita semua, termasuk saya, untuk lebih berani menegur ketika melihat sesuatu yang salah, meskipun itu datang dari teman dekat sendiri. Diamnya kita adalah pupuk bagi budaya pelecehan untuk terus tumbuh. 

Untuk para mahasiswi dan dosen yang menjadi korban, semoga kalian menemukan kekuatan untuk pulih. Keberanian kalian untuk bersuara adalah langkah besar agar tidak ada lagi perempuan lain yang harus menelan rasa mual sendirian di meja kerja atau di bangku kuliah mereka.

Mari kita mulai lebih peduli pada batasan. Karena pada akhirnya, rasa hormat tidak butuh alasan, ia hanya butuh nurani yang masih berfungsi. 

Bagi teman-teman yang mungkin saat ini sedang berada di posisi saya dulu, merasa tidak nyaman dengan "candaan" di kantor tapi merasa sendirian. Ada beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental dan martabat kita:

1. Percayai Instingmu: 

Jika sebuah komentar membuatmu merasa tidak nyaman, itu valid. Jangan biarkan orang lain melabelimu "baper" (bawa perasaan). Batasanmu adalah milikmu, dan tidak ada yang berhak mendikte di mana garis itu berada.

2. Gunakan Strategi "The Power of Why": 

Terkadang, cara paling halus untuk menghentikan lelucon seksis adalah dengan bertanya balik secara datar: "Maaf, maksudnya apa ya? Saya nggak paham lucunya di mana." Meminta mereka menjelaskan lelucon yang merendahkan biasanya akan membuat suasana menjadi canggung bagi pelaku, dan sering kali cukup untuk menghentikan mereka.

3. Cari 'Sekutu' di Tempat Kerja

Kamu tidak harus berjuang sendiri. Perhatikan rekan kerja lain; biasanya ada orang-orang yang juga merasa tidak nyaman namun sama-sama takut bersuara. Membangun dukungan kecil dengan mereka bisa membuatmu merasa lebih kuat dan tidak terisolasi.

4. Dokumentasikan Hal-hal yang Tidak Terlihat

Meski hanya ucapan, mulailah mencatat waktu, tempat, dan apa yang dikatakan. Di dunia profesional, dokumentasi adalah pelindungmu jika suatu saat situasi memburuk dan kamu perlu melapor ke HRD atau atasan.
   
5. Pahami Bahwa Ini Bukan Salahmu:

Kamu tidak bertanggung jawab atas perilaku buruk orang lain. Tugasmu bukan untuk "mendidik" mereka jika itu menguras energimu, tapi tugasmu adalah menjaga kesejahteraan dirimu sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Darurat Literasi Digital di Indonesia

Literasi Digital adalah kemampuan dasar mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang terhubung dengan dunia maya, - Angrumaoshi - Sumber : www.pixabay.com Pengertian Literasi Digital Pernah dengar Literasi Digital? Jujur, aku pernah mendengarnya namun belum paham 100%. Kalau literasi keuangan/finansial dan literasi baca tulis sudah cukup sering ya mendengarnya. Sebelum membahas lebih lanjut tentang Literasi Digital, aku mau mengutip terlebih dahulu mengenai pengertian dari literasi yang disebutkan di wikipedia. “ Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. ” Nah ternyata, literasi itu ada banyak jenisnya. Salah satunya adalah literasi digital. Tetapi apa saja sih jenis-jenis literasi itu, berikut jenis litera...

Perawatan Wajah di ZAP Clinic saat Pandemi

ZAP Clinic Review Aku sudah lama sekali tidak perawatan wajah selama pandemi, baik itu ke salon atau ke klinik. Aku membayangkan harus membuka masker saja, sudah membuatku urung untuk melakukan perawatan wajah di luar rumah.  Namun ada saatnya perawatan wajah tidak dapat dilakukan di rumah saja.  Ini pertama kalinya aku mencoba di ZAP Clinic. Letaknya yang dekat dengan food court di lantai 2 Grand Galaxy Park ini, sangat strategis sehingga membuatku sudah sering sebenarnya melewatinya, namun belum kesampaian untuk mencobanya sebelumnya.  ZAP Clinic Grand Galaxy Park  Akhirnya walau masih pandemi aku memberanikan diri untuk treatment wajahku di ZAP Clinic Grand Galaxy Park (GGP) Bekasi. Mall yang tidak begitu ramai dan juga protokol kesehatan di ZAP Clinic yang sangat terjaga. Kebayang gak, pakai masker tapi ditreatment wajahnya, bisa loh ternyata. ZAP Clinic Ruang Treatment Tips dan Alur Perawatan di ZAP CLinic Booking Jadwal Sebaiknya kamu booking dulu nih, Jangan l...

Branding via Digital Marketing

Mungkin masih banyak diantara kita yang tidak peduli dengan brand atau merek. Khususnya bagi mereka yang berpikir bahwa yang penting aku jualan barang atau jasa yang memuaskan pelanggan itu sudah cukup.  Nama brand atau merek itu nggak penting deh urusan belakangan. Apalagi ngurusin brand atau merek itu biasanya butuhkan uang yang tidak sedikit dan juga waktu.  Benarkah merek atau brand itu nggak penting? Aku mau cerita salah satu kisah temanku yang mempunyai bisnis rumahan membuat kue.  Temanku ini adalah teman mantan satu kantorku di Jakarta yang suka sekali memasak kue.  Sebelum dia resign dari kantornya dia sudah memulai bisnis kuenya ini dari rumah. Pelanggannya rata-rata adalah teman-teman kantornya, teman-teman sekolahnya teman-teman kuliah, kolega kantor dari suaminya.  Jadi bisa dibilang pemasarannya itu lewat WhatsApp status dan WhatsApp Group serta dukungan suaminya tentunya.  Lalu dia memantapkan hati meninggalkan pekerjaan kantoran nya dan akan...

Akhirnya, Berani Berwisata Lagi (Air Terjun Klenting Kuning) di Kabupaten Semarang

  Awal Mula Berwisata Kembali Sudah beberapa bulan ini sejak Februari 2020, aku dan keluarga berada di rumah saja. Sudah penat rasanya. Ingin rasanya berjalan-jalan berwisata seperti yang sering kami lakukan saat akhir pekan.  Sekarang sudah masuk bulan September 2020, jadi sudah 6 bulan. Waktu yang terasa sangat lama. Kami benar-benar tidak pergi keluar kota bahkan ke mall pun tidak. Anak-anak pun benar-benar di rumah saja. Sekolah juga hanya via daring.  Ayahnya sebenarnya sudah kerap kali mengajak kami untuk berwisata. Wisata yang pada akhirnya hanya berputar-putar saja keliling kota atau ke kota sebelah namun benar-benar tidak turun dari kendaraan. Fiuh apa asyiknya seperti itu. Semangat kami langsung ciut ketika mendapati penuhnya parkiran tempat-tempat wisata tersebut dan banyaknya orang-orang berlalu lalang tanpa masker.  Tetapi akhirnya hari minggu kemarin 6 September 2020, sang ayah kembali mengajak kami keluar rumah. Aku pun sudah pesimis saja, pasti hanya ...

Hidup di Perantauan (Part 2)

Pada artikel sebelumnya Hidup di Perantauan (Part 1) , aku sudah sharing 2 tips ala diriku Angrumaoshi cara bertahan hidup di Perantauan. Masih mau merantau? Sudah siapkah merantau? Berikut aku tulis ulang ya keseluruhan tips supaya teman-teman tidak terlupa. 5 Tips Cara Bertahan Hidup di Perantauan Ala Angrumaoshi. Make a  friend (Perbanyak kenalan). Prepare your savings (Siapkan dana darurat). Know your new place (Kenali daerahmu). Less Goods is Good (Perhatikan efisiensi dan efektifitas barang yang dimiliki). Learn the Language (Belajar bahasa lokal). 3. Know your place (Kenali Daerahmu) Via Google Maps dan Google Earth Di era digital seperti ini, sangat terbantu ya untuk mengenal daerah tujuan rantau kita, bahkan sebelum kita menginjakkan kaki disana. Kita dapat memanfaatkan google maps termasuk juga google earth. Kita dapat melihat-lihat situasi secara real di lokasi daerah rumah tempat kita tinggal di perantauan.  Begitu pula kita dapat melihat fasilitas umum terdekat se...

Selamat Datang Vaksin Virus Corona untuk Indonesia

Andaikan vaksin virus corona telah tersedia jauh-jauh hari, tentunya kita tidak akan pusing dan merasa takut yang berlebihan dengan corona seperti setahun terakhir ini. Untungnya banyak negara dan perusahaan farmasi berlomba-lomba dan giat untuk menciptakan vaksin untuk covid-19.  Sudah banyak nama-nama vaksin covid-19 yang siap beredar disebutkan pada berita seperti   vaksin moderna , vaksin Bio Farma (Persero), vaksin Astra Zeneca-Oxford, vaksin Sinopharm, vaksin Pfizer-BioNTech, dan vaksin Sinovac. Indonesia pun akan menggunakan keenam jenis merk vaksin ini. Bahkan vaksin Sinovac sudah datang masuk ke Indonesia pada tanggal 6 Desember 2020. Tiap-tiap vaksin mempunyai harga yang berbeda-beda. Begitupun dengan efek samping yang menyertainya. Bahkan bagi yang memiliki alergi disarankan juga untuk berhati-hati dalam memilih vaksin yang sesuai untuk tubuhnya.  Sumber gambar : www.pixabay.com Tak terasa sudah hampir setahun covid-19 bersama kita. Dalam hitungan hari ...

KiriminAja vs Mengantar: Jasa Kirim Paket Termurah yang Mana?

@angrumaoshi2000 Bingung cari yang paling hemat, cape kan kalau mesti buka satu-satu websitenya. Kenalin nih ada agregrator jasa pengiriman #KiriminAja buat kirim paket cod dan kirim barang. Daftar disini ya https://kiriminaja.com/?utm_source=google&utm_medium=other&utm_content=vsmengantar Paling banyak pilihan jasa pengirimannya, direkomendasikan pula mana yang paling murah. #KiriminAja #KiriminAjavsMengantar #KirimPaket #KirimPaketCOD #KirimBarang ♬ original sound - angrumaoshi2000 KiriminAja vs Mengantar: Jasa Kirim Paket Termurah yang Mana? Pernah nggak ngalamin pelanggan yang udah check out, udah sayang banget sama barangnya, tapi tiba-tiba kabur gara-gara ongkir mahal? Rasanya kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya! Nah, biar kejadian pahit ini nggak terulang, penting banget buat cari  jasa kirim paket termurah  tapi tetap bisa diandalkan baik kirim paket COD maupun kirim barang biasa. Kali ini, kita bakal adu kuat dua layanan pengi...

Tempat Hang Outku di Pringsewu Kota Lama Semarang bersama Blogger Gandjel Rel

Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan restoran #pringsewu ini. Pringsewu group ini, restorannya tersebar di sepanjang jalur pantura dan saat ini juga tersebar di sepanjang jalur rest area tol trans jawa. Aku biasa makan di pringsewu rest area atau tegal/pemalang ketika perjalanan semarang-jakarta begitu pula sebaliknya. Namun aku baru mengetahui kalau ada pringsewu juga di kota lama Semarang ini. Pertama kali aku mengetahuinya saat berkunjung ke Sam Pho Kong dan diberikan voucher diskon saat akan meninggalkan lokasi. Aku pun penasaran ingin mencoba. Gayung pun bersambut, tak lama ada undangan dari komunitas keren #GandjelRel yang akan berulang tahun ke4 dirayakan disana. Aku sebagai member baru yang baru join, senang sekali plus dapat menghilangkan rasa penasaranku dengan pringsewu yang di kota lama ini. Aku sebenarnya adalah pendatang di kota lunpia ini dan sudah jatuh cinta dengan kota ini. Kota lama yang apik dengan taman sri gunting untuk foto-foto, di sebelah ge...

Toleransi di Indonesia Saat Ini

Toleransi di Indonesia saat ini, kurasakan semakin memudar. Toleransi yang dulu semenjak kecil digaungkan baik melalui pendidikan formal di sekolah atau melalui praktik sehari-sehari di kehidupan nyata pada sekitarku, sangat mudah ditemukan dan kurasakan.  Namun kini setelah aku dewasa, berkeluarga dan di masa reformasi yang telah lebih dari 2 dekade ini, toleransi ini entah seperti menguap. Perbedaan-perbedaan kecil dibuat semakin meruncing. Bahkan yang pada awalnya kita tidak merasakan perbedaan itu dibuat merasa bahwa kini kita berbeda.  sumber : www.pixabay.com Aku jujur sedih. Mengapa sekarang menjadi seperti ini. Entah mengapa perbedaan pandangan politik dapat berujung pada ketidakharmonisan hubungan keluarga. Entah mengapa pula perbedaan agama atau bahkan dalam agama yang sama juga dapat menimbulkan friksi-friksi dalam hubungan antar manusia. Semuanya merasa pilihannya adalah yang paling benar. Berbeda berarti salah.  Aku mengalami sebelum masa reformas...

Mata Anak Sering Perih? Begini Cara Efektif Mengatasi Mata Kering Tanpa Harus ke Dokter

Mata Anak Sering Perih? Begini Cara Efektif Mengatasi Mata Kering Tanpa Harus ke Dokter Beberapa waktu lalu, anak bungsuku yang masih kelas dua SD tiba-tiba menghentikan aktivitas menggambarnya di tablet dan mengeluh, “Ma, mataku perih banget.” Kakaknya yang duduk di kelas lima pun ikut menimpali, “Iya Ma, aku juga. Sering banget kalau habis nonton atau main HP, mataku kayak panas dan kering.” sumber: AI Microsoft Copilot Sebagai seorang ibu sekaligus penulis yang juga banyak menghabiskan waktu di depan layar, keluhan anak-anak ini langsung bikin aku waspada. Apalagi saat menyadari, aku pun sering merasakan hal yang sama. Mata sepet, perih, lelah , meski hanya duduk di rumah saja. Setelah mencari tahu lebih dalam, ternyata kami mengalami gejala yang umum dikenal sebagai mata kering . Kenali Tanda-tanda Mata Kering yang Sering Diabaikan Mata kering bukan sekadar masalah kecil. Gejalanya bisa terasa ringan hingga mengganggu aktivitas harian, terutama jika dibiarkan tanpa penanganan. ...