Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Aku seringkali kagum dengan banyaknya para perempuan hebat dan berkarya dengan menggunakan hijab. Hal ini menegaskan bahwa hijab tidak membatasi mereka. Para perempuan hebat ini dapat melakukan apa saja yang diyakininya dan memberikan dampak serta berperan maksimal untuk keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia. Seringkali banyak perempuan berpikir bahwa apakah menggunakan hijab itu akan menghalanginya kelak untuk menjadi wanita yang berdaya bahkan go global? Aku sebagai generasi awal milenial menjelang usia 40 tahun mengalami masa ketika sangat sedikit sekali perempuan yang sukses karir dan berkaya baik di tingkat nassional dan di tingkat global menggunakan hijab yang berasal dari Indonesia. Bahkan kala itu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menegah pertama sangat sedikit teman sekolahku yang menggunakan hijab, bahkan jika menggunakan pun mereka tetap menggunakan seragam lengan pendek dan rok selutut namun dengan kaos kaki hingga lutut dan manset tangan...