Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
Ketika mendengar judul buku ini, aku langsung tertarik untuk membacanya. Mengapa?
Karena kini aku pun seorang Bunda bergelar Sarjana yang mengurus Rumah Tangga. Sepertinya akan banyak hal-hal yang relate banget dengan aku ketika membaca buku ini.
Aku pun ikutan Give Awaynya dari pengarangnya. Tak kusangka aku memenangkannya.
Aku pun saat ini sedang mengikuti Reading Challenge One Day One Post. Untuk tantangan pekan pertama dibebaskan untuk membaca buku genre apa pun. Jatuhlah pilihanku untuk membaca buku ini. Ku memang sudah jatuh hati pada pandangan pertama melihat cover dan judul serta taglinenya "Perjuangan Ibu Muda Meraih Gelar Sarjana".
Alur ceritanya mengalir dan membuat pembaca benar-benar dapat merasakan yang dirasakan ibu muda ini. Diceritakan mulai dari saat awal kuliah, hingga terpilih menjadi mahasiswa berprestasi. Namun akhirnya memilih untuk menikah muda disaat belum menjadi sarjana tanpa paksaan dari siapa pun tapi karena memang jodohnya sudah hadir disaat itu.
Seorang pria muda yang juga bertalenta di masa kuliahnya, penuh kesibukan dengan bergabung organisasi kemahasiswaan adalah salah satu kecocokan mereka walau mereka dipertemukan dalam menuju jenjang pernikahan melalui taaruf.
Singkat kata akhirnya mereka menikah dan tetap berkuliah namun tak lama datanglah buah hati di rahim calon ibu muda ini. Mulai dari situlah perjuangan dan pergolakan batin serta ucapan-ucapan yang mungkin hanya basa-basi tapi terdengar menusuk hati terkait statusnya yang seorang mahasiswi menikah muda lalu sedang berbadan dua. Apakah masih bisa ibu muda ini dengan segala talentanya menjadi seorang sarjana?
Detail perasaan, hal-hal yang dilakukan ketika hamil, bahkan ketika aku membaca detik demi detik proses melahirkan buah hatinya benar-benar membuatku merasa berada disana dan menyaksikannya. Sangat dalam dan jelas.
Begitu pula perjuangannya ketika menyelesaikan kembali skripsinya yang sempat tertunda kareba kehadiran buah hati juga penuh dengan tantangan. Baik tantangan eksternal (dosen pembimbing), internal (galau apakah mampu), dan komitmen tetap menyusui anak serta tantangan lainnya.
Bacaan buku ini pas sekali untuk ibu-ibu muda yang menikah muda dan ingin melanjutkan sekolah kembali dan meraih gelar walau sudah mempunyai anak. Walau akhirnya jika gelar tersebut tidak digunakan untuk bekerja kantoran, namun pendidikan tinggi itu penting dan perlu untuk seorang ibu karena ibulah yang pertama akan mendidik anak-anaknya.
Raihlah gelar setinggi langit bukan karena untuk dirimu namun untuk anak-anakmu. Karena belajar itu sepanjang masa dan menjadi suri teladan untuk anakmu.
Aku setelah membaca buku ini terpompa kembali semangatku yang sempat memadam untuk meraih gelar master. Semoga diberikan jalan, kesempatan dan dimampukan oleh Tuhan.
Salah satu quote yang paling aku suka yang ada di dalam buku ini adalah :
Oh ya, buku ini bisa diperoleh langsung dari pengarangnya, mampir saja ke IG@visyabiru_.



Komentar
Posting Komentar