Perempuan itu ketika bekerja dan sudah berkeluarga, terlebih ketika mempunyai anak, akan selalu ditanya, "Bagaimana bagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan?" Laki-laki apakah dihadapkan pada pertanyaan yang sama? Oh, tentu tidak. Padahal laki-laki juga banyak yang berkeluarga dan mempunyai anak. Mengapa mereka tidak ditanyakan pertanyaan yang sama? Tanggung jawab mengurus anak dan keluarga terkesan menjadi tanggung jawab tunggal seorang perempuan. Sedangkan laki-laki cukup sampai urusan nafkah keluarga saja, sisanya menjadi urusan perempuan. Benarkah demikian? Mengapa yang terjadi masyarakat kita adalah pandangan yang seperti ini dan diamini oleh seluruh pihak. Perempuan bicara rasa lelah mengurus anak dan rumah itu, terlebih sambil bekerja dianggap biasa. Sudah seharusnya demikian. Ulala, capeknya. Jeritan hati para perempuan tidak didengar, hanya karena dianggap ya memang sudah seharusnya, perempuan urus anak dan rumah. Capek gak sih jadi "kuat". ...
https://youtu.be/uynf5qtSki0
Diatas adalah salah satu channel youtube favourite saya yang pastinya saya subscribe dan saya ikuti selalu postingannya. Banyak sekali pembahasan mengenai kesehatan jiwa disini yang disampaikan dari sudut pandang seorang dokter ahli jiwa namun sangat mudah dipahami dengan bahasa yang membumi. Dokternya pun lumayan good looking ya dan masih muda, jadi menontonnya pun juga enak, tanpa merasa digurui.
Episode kali ini membahas tentang perbedaan antara cemas dan depresi. Kalau yang saya pahami setelah mendengarkan penjelasan beliau diatas, kunci perbedaannya terletak pada perasaan. Jika cemas, perasaan yang dominan adalah takut hingga dapat disertai gejala fisik seperti jantung beedebar-debar, ingin muntah, keringat dingin di sekujur tubuh, pikiran tidak tenang karena selalu memikirkan yang dicemaskan atau ditakutkan. Sedangkan depresi lebih kepada sudah kehilangan semangat hidup, menyalahkan diri sendiri, menyerah, cenderung diam saja, apatis terhadap lingkungan sekitar dan diri sendiri bahkan jika yang berat disertai dengan terdapat pikiran dan percobaan untuk mengakhiri hidup.
Yang menarik disini depresi dikatakan tidak selalu ada penyebabnya sehingga bisa saja seseorang merasakan depresi tanpa adanya suatu pemicu kejadian tertentu. Berbeda dengan cemas, seseorang takut atau cemas akan sesuatu hal sehingga dapat diketahui hal apakah yang memicu ketakutan atau kecemasan tersebut.
Disampaikan pula oleh Pak Dokter bahwa banyak yang enggan datang ke dokter spesialis jiwa berbeda layaknya dengan orang datang ke dokter jika sakit flu/demam karena adanya stigma kalau datang ke dokter jiwa nanti dikira gila. Dan juga masih banyak orang pada umumnya yang menganggap orang yang depresi atau cemas berlebihan itu adalah orang-orang yang kurang bersyukur sehingga dianggap lebay. Padahal kenyataannya memang ada ketidakseimbangan hormon di syaraf mereka yang menyebabkan mereka berperilaku seperti depresi dan cemas berlebihan ini. Sama seperti penyakit fisik lainnya penyakit ini pun juga perlu ke dokter dan diresepkan obat jika perlu.
Stigma positif dan empati masyarakat perlu dibangun sehingga dapat membantu para penderita depresi dan cemas berlebihan ini untuk dapat kembali sehat. Ayo mari kita kenali gejala-gejala berbagai penyakit yang menyerang jiwa sehat kita ataupun orang-orang di sekitar kita. Sehingga jika dikenali lebih dini penyembuhan dan pencegahannya pun akan lebih mudah. Salam sehat jiwa raga untuk kita semua.
Ternyata perbedaannya jelas ya, antara cemas dengan depresi
BalasHapusCiri" depresi apa salah satunya sering merasa cemas.
BalasHapusAlu sering banget ngrasa cemas, kalau di suruh presentasi 😂😂😂
Kalau sering cemas/grogi kalau disuruh presesentasi itu... Semua org juga merasakan hehehe...
BalasHapus